Lean Six Sigma
Pengantar
Konsep Lean
Six Sigma merupakan suatu konsep
menyeluruh tentang sistem bisnis yang dikembangkan di Amerika Serikat. Konsep Lean berakar dari konsep sistem manajmen
Toyota yang dikembangkan dan diperluas, sedangkan Six Sigma berakar dari konsep sistem manajemen Motoroka. Kekuatan
dari kedua konsep ini disatukan atau disinergikan menjadi konsep Lean Six Sigma. Sasaran dari Lean adalah untuk menciptakan aliran
lancar dari produk sepanjang proses value
stream (value stream process) dan menghilangkan semua jenis pemborosan yang
ada, sedangkan sasaran dari Six Sigma adalah
meningkatkan kapabilitas proses sepanjang value
stream untuk mencapai zero defects dan
menghilangkan variasi yang ada.
Lean
Six Sigmayang
merupakan kombinasi antara Lean dan Six Sigma dapat didefinisikan sebagai
suatu filosofi bisnis, pendekatan sistematik dan sistematik untuk
mengidentifikasi dan menghilangkan pemborosan (waste) atau aktivitas-aktivitas yang tidak bernilai tambah (non-value-added activities) melalui
peningkatan terus-menerus secara radikal (radical
continuous improvement) untuk mencapai tingkat kinerja enam sigma, dengan
cara mengalirkan produk (material,
work-in-process, output) dan informasi menggunakan sistem tarik (pull system) dari pelanggan internal dan
eksternal untuk mengejar keunggulan dan kesempurnaan berupa hanya memproduksi
3,4 cacat untuk setiap satu juta kesempatan atau operasi -3,4 DPMO (Defects per Million Opportunities).
Lean
Six Sigma berarti
mengerjakan sesuatu dengan cara sesederhana dan seefisien mungkin, namun tetap
memberikan kualitas superior dan oekayanan yang sangat cepat. Manajemen
organisasi perlu menyerap pemikiran Lean-Sigma
yang dibangun melalui menanamkan dalam bentuk kultur (culture), ukuran-ukuran (metrics),
kebijakan-kebijakan (policies),
prosedur-prosedur (procedures), dan
pada akhirnya adalah alat-alat atau teknik-teknik Lean Six Sigma (Six Sigma tools techniques).
PENDEKATAN LEAN
1.
Konsep Dasar Lean
Lean adalah suatu upaya terus menerus
untuk menghilangkan pemborosan (waste)
dan meningkatkan nilau tambah (value
added) produk (barang dan/ atau jasa agar memberikan nilai kepada pelanggan
(costumer value). Tujuan Lean adalah
meningkatkan terus-menerus costumer value
melalui peningkatan terus-menerus rasio antara nilai tambah terhadao waste (the value-to-waste ratio).
Lean dapat didefinisikan sebagai suatu
pendekatan sistematik dan sistematik untuk mengidentifikasi dan menghilangkan
pemborosan (waste) atau aktivitas-aktivitas yag tidak bernilai
tambah (non-value-adding activities) melalui
peningkatan terus-menerus secara radikal (radical
continuous improvement) dengan cara mengalirkan produk (material, work-in-process, output) dan informasi menggunakan
sistem tarik (pull system) dari
pekanggan internal dan eksternal untuk mengejar keunggulan dan kesempurnaan.
Lean yang diterapkan pada keseluruhan
perusahaan disebut sebagai Lean Enterprise.
Lean yang diterapkan pada manufacturing
disebut Lean Manufacturing, Lean
yang diterapkan dalam bidang jasa disebut sebagai Lean Service. Demikian
pula apabila Lean diterapkan dalam fungsi design/development,
order entry, accounting, finance, engineering, sales/marketing, production,
administration, office, maka Lean itu akan disebut sebagai Lean Design/Development, Lean Order Entry,
Lean Accountin, Lean Finance, Lean Lean
Engineering, Lean Sales/Marketing, Lean Production, Lean Administration, Lean
Office. Lean yang diterapkan pada sebagai Lean Retailing, Lean dalam bidang pemerintahan disebut Lean Goverment , dan lain-lain.
Terdapat lima prinsip dasar Lean:
- Mengidentifikasi nilai produk (barang dan/jasa) berdasarkan perspektif pelanggan, di mana pelanggan menginginkan produk (barang dan/atau jasa) berkualitas superior, dengan harga yang kompetitif dan penyerahan yang tepat waktu.
- Mengidentifikasi value stream process mapping (pemerataan proses pada value stream) untuk setiap produk (barang dan/atau jasa). (Catatan: kebanyakan manajemen perusahaan industri di Indonesia hanya melakukan pemetaan proses bisnis atau proses kerja, bukan melakukan pemetaan produk. Hal ini berbeda dengan pendekatan Lean.)
- Menghilangkan pemborosan yang tidak bernilai tambah dari semua aktivitas sepanjang proses value stream itu.
- . Mengorganisasikan agar material, informasi, dan produk itu mengalir secara lancar dan efisien sepanjang proses value stream menggunakan sistem tarik (pull system).
- . Terus-menerus mencari berbagai teknik dan alat peningkatan (improvement tools and techniques) untuk mencapai keunggulan dan peningkatan terus-menerus.
2.
Jenis-Jenis Pemborosan
Type
One Waste adalah
aktivitas kerja yang tidak menciptakan nilai tambah dalam proses transformasi
input menjadi output sepanjang value
stream, namun aktivitas itu pada saat sekarang tidak dapat dihindarkan
karena berbagai alasan. Misalnya, aktivitas inspeksi dan penyortiran dari
perspektif Lean merupakan aktivitas tidak bernilai tambah sehingga merupakan waste, namun pada saat sekarang kita
masih membutuhkan inspeksi dan penyortiran karena mesin dan peralatan yang
digunakan sudah tua sehingga tingkat keandalannya berkurang. Demikian pula,
pengawasan terhadap orang, misalnya, merupakan aktivitas tidak bernilai tambah
berdasarkan perspektif Lean, namun pada saat sekarang kita masih harus
melakukannya, karena orang tersebut baru saja direkrut oleh perusahaan sehingga
belum sehingga belum berpengalaman. Dalam konteks ini, aktivitas inspeksi,
penyortiran, dan pengawasan dikategorikan sebagai Type One Waste. Dalam jangka panjang Type One Waste harus dapat dihilangkan atau dikurangi. Type One Waste ini sering disebut
sebagai Incidential Activity atau Incidential Work yang termasuk ke dalam
aktivitas tidak bernilai tambah (non-value-adding
work or activity).
Type
Two Waste merupakan
aktivitas yang tidak menciptakan nilai tambah dan dapat dihilangkan dengan
segera. Misalnya , menghasilkan produk cacat (defect) atau melakukan kesalahan (error) yang harus dapat dihilangkan dengan segera. Type Two Waste ini sering disebut
sebagai Waste saja, karena
benar-benar merupakan pemborosan yang harus dapat diidentifikasi dan
dihilangkan dengan segera.
Konsep value added activity, incidental (non value
added) activity atau type one waste dan
type two waste (Waste) ditunjukkan
dalam Bagan 1.2.
3.
Studi Kasus tentang Pendekatan Lean
a.
Lean Office
Prinsip-prinsip
Lean untuk menghilangkan pemborosan dan penggunaan alat-alat lean seperti %S
dan visual management, secara mudah
dapat diterapkan di kantor, sehingga disebut sebagai Lean Office. Penerapan Lean di kantor tidak hanya berkontribusi
terhadap pembenahan administrasikantor, tetapi juga membantu accounting and finance, engineering, human
resource, sales and marketing, dan fungsi pendukung lainnya agar menghargai
dan memahami isu-isu yang terkait dengan pabrik.
b.
Lean Construction
Pendekatan Lean juga telah banyak diadopsi
dan dibahas dalam bidang konstruksi, seperti yang tampak dari pembahasan dalam
Kongres tentang Riset Konstruksi pada tahun 2005. Pendekatan Lean dapat
diterapkan sepanjang proses supply chain dari
proyek-proyek konstruksi.
c.
Lean Banking
Lean
banking telah
diterapkan oleh Bank of America, Citibank, ING Direct, Jefferson Pilot,
Progessive Insurance, dan lain-lain. Industri perbankan dan asuransi telah
menerapkan dengan baik teknik-teknik Lean karena pada dasarnya proses industri
finansial merupakan proses yang berulang. Penghematan uang dan waktu dapat
dihemat secara signifikan melalui diferensiasi proses-proses, rasionalisasi
keputusan untuk persetujuan (approvals),
simplifikasi proses pelayanan, desain pelayanan dalam modules, dan standarisasi
proses pelayanan.
d.
Lean Health Care
Prinsip-prinsip Lean Service juga populer dalam industri
kesehatan, karena melalui implementasi Lean
Health Care (atau sering disebut LeanCare),
berbagai pemborosan yang terjadi dirumah-rumah sakit dan pusat-pusat pelayanan
kesehatan lainnya dapat dihilangkan, sehingga pelayanan kesehatan meningkat dan
biaya-biaya yang terkait dengan pelayanan kesehatan itu menurun.
PENDEKATAN SIX
SIGMA
1.
Konsep Dasar Six Sigma
Six Sigma dapat
dijadikan ukuran target kinerja proses industri tentang bagaimana baiknya suatu
proses transaksi produk antara pemasok (industri) dan pelanggan (pasar).
Semakin tinggi target sigma yang dicapai, semakin baik kinerja proses industri.
Sehingga 6-sgma otomatis lebih baik dripada 4-sigma, dan 3-sigma. Six sigma
juga dapat dianggap sebagai strategi terobosan yang memungkinkan perusahaan
melakukan peningkatan luar biasa (dramatik) di tingkat bawah dan sebagai
pengendalian proses industri yang berfokus pada pelanggan dengan memperhatikan
kemampuan proses.
Six Sigma Motorola
merupakan suatu merode atau teknik pengendaluan dan peningkata kualitas
dramatik yang diterapkan oleh perusahaan Motorola sejak tahun 1986, yang
merupakan terobosan baru bidang manajemen kualitas. Banyak ahli manajemen
kualitas menyatakan bahwa metode Six Sigma Motorola dikembangkan dan diterima
secara luas oleh dunia industri, karena manajemen industri frustasi terhadap
sistem-sistem manajemen kualitas yang ada, yang tidak mampu melakukam
peningkatan kualitas secara dramatik menuju tingkat kegagalan nol (zero defects). Banyak sistem manajemen kualitas, seperti Malcolm Baldrige National Quality Award (MBNQA),
ISO 9000, dan lain-lain, hanya menekankan pada upaya peningkatan terus-menerus
berdasarkan kesadaran mandiri manajemen, tanpa memberikan solusi yang ampuh
bagaimana terobosan-terobosan harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas
secara dramatik menuju tingkat kegagalan nol. Prinsip-prinsip pengendalian dan
peningkatan kualitas Six Sigma Motorola mampu menjawab tantangan ini, dan
terbukti perusahaan Motorola selama kurang lebih 10 tahun setelah implementasi
konsep Six Sigma telah mampu mencapai tingkat kualitas 3,4 DPMO (defect per million opportunities- kegagalan
per sejuta kesempatan).
2.
Six Sigma sebagai pengukuran Kinerja
Bisnis dan Industri
Metodologi Six
Sigma dapat juga diterapkan dalam sektor publik (pemerintahan) pada tingkat
mikro maupun makro.
Pada dasarnya pada
tingkat makro, pemerintah berperan sebagai stimulator atau katalis untuk
mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi seperti penetapan kebijakan investasi,
fiskal, industri dan perdagangan, dan lain-lain. Metode Six Sigma dpat
digunakan untuk menetapkan indikator-indikator kinerja kunci (key performance indicator = KPIs), sehingga
kebijakan nasional dapat dilaksanakan berdasarkan data intelijen Amerika
Serikat CIA telah menggunakan metode Six Sigma untuk meningkatkan ukuran-ukuran
yang berkaitan dengan pencegahan terorisme.
Pada tingkat
mikro, aplikasi Six Sigma bertujuan
untuk meningkatkan cara-cara pelaksanaan manajemen pemerintahan itu. Tujuannya
adalah meningkatkan pelayanan publik yang efektif dan efisien sehingga
mendukung kebijakan pemerintah pada tingkat makro. Sebagai contoh: Six Sigma Water Permit Project yang
dilakukan oleh Minnesota Pollution Control Agency (USA) dan Alexandra Hospital
di Singapura yang menerapkan Six Sigma untuk
mengukur lama waktu yang dibutuhkan pasien untuk memperoleh pelayanan (turn-around time), kemudian berupaya
untuk menurunkan turn-around time tersebut.
3.
Peningkatan Kapabilitas Proses Menuju
Target Six Sigma
Setelah kita
mengetahui posisikinerja bisnis dan industri pada saat sekarang (baseline measurement), misalnya pada
kapabilitas 3-sigma yang menghasilkan kesalahan atau kegagalan sebesar 66.807
DPM (defects per million) atau 66.807
DPMO (defects per million opportunities),
kita HARUS melakukan berbagai upaya peningkatan (improvement) menuju target 6-Sigma (Six Sigma) yang hanya akan menghasilkan 3,4 DPM atau 3,4 DPMO.
Peningkatan dari kapabilitas proses 3-Sigma menjadi 4-Sigma membutuhkan sekitar
10 kali improvement, peningkatan
kapabilitas proses 4-Sigma menjadi 5-Sigma membutuhkan sekitar 30 kali improvement, sedangkan peningkatan dari
kapabilitas 5-Sigma menjadi 6-Sigma membutuhkan sekitar 70 kali improvement.dengan demikian apabila kita
menganggap bahwa kinerja bisnis dan industri di Indonesia sekarang masih berada
pada tingkat kapabilitas 3-Sigma, maka dibutuhkan sekitar 21.000 (=10x30x70)
kali peningkatan untuk mencapai target Six
Sigma. Hal ini berarti semakin tinggi kapabilitas sigma, semakin tinggi
pula upaya peningkatan agar mencapai keunggulan dan kesempurnaan. Upaya
peningkatan dari 5-Sgma menjadi 6-Sigma akan leibih tinggi daripada upaya
peningkatan 4-Sigma menjadi 5-Sigma, juga lebih tinggi daripada upaya
peningkatan dari 3-Sigma menjadi 4-Sigma.
Berbagai upaya
peningkatan menuju target six sigma dapat dilakukan menggunakan dua metodologi,
yaitu (1) Six Sigma – DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control),
dan (2) esign For Six Sigma – DFSS
DMADV (Define, Measure, Analyze, Design,
Verify).
DMAIC digunakan
untuk meningkatkan proses bisnis yang telah ada sedangkan DMADV digunakan untuk
menciptakan desain proses baru dan/atau desain produk dalam cara sedmikian rupa
agar menghasilkan kinerja bebas kesalahan (zero
deffects/errors).
DMAIC terdiri atas
lima tahap utama:
a. Define
Mendefinisikan secara formal sasaean
peningkatan proses yang konsisten dengan permintaan atau kebutuhan pelanggan
dan strategi perusahaan.
b. Measure
Mengukur kinerja proses pada saat sekarang
(baseline measurement) agar dapat
dibandingkan dengan target yang ditetapkam. Lakukan pemetaan proses dan
mengumpulkan data yang berkaitan dengan indikator kinerja kunci (key performance indicators = KPIs).
c. Analyze
Menganalisis hubungan sebab-akibat
berbagai faktor dominan yang perlu dikendalikan.
d. Improve
Mengoptimaisasikan proses menggunakan
analisis-analisis seperti Design of
Experiments (DOE), dan lain-lain, untuk mengetahui dan mengendalikan
kondisi optimum proses.
e. Controls
Melakukan pengendalian terhadap proses
secara terus-menerus untuk meningkatkan kapabilitas proses menuju target Six Sigma.
Design
for Six Sigma (DFSS) menggunakan metodologi DMADV (Define, Measure, Analyze, Design, and
Verify), sebagai berikut:
a. Define
Mendefiisikan secara formal sasaran dari
aktivitas desain proses baru dan/atau desain produk baru yang secara konsisten
berkaitan langsung dengan pertminaan atau kebutuhan pelanggan dan strategi
perusahaan.
b. Measure
Mengidentifikasi critical-to-qualities (CTQs), kapabilitas produk (product capabilities), kapabilitas
proses (process capability) evaluasi
risiko, dll.
c. Analyze
Mengembangkan dan mendesain
alternatif-alternatif (alternatives),
menciptakan high-level design, dan
mengevaluasi kapabilitas desain agar mampu memilih desain terbaik.
d. Design
Mengembangkan desain secara terperinci (develop detail design), oprimisasi
desain (optimize design), dan rencana
untuk verifikasi desain. Pada tahap ini mungkin membutuhkan simulasi.
e. Verify
Memverifikasi desain, setup pilot runs, implementasi proses baru (untuk desain proses
baru) atau produk baru (untuk desain peroduk baru) , kemudian menyerahkan
kepada pemilik proses.
4.
Visualisasi Informasi tentang Six Sigma
Informasi tentang Six Sigma atau Design For Six Sigma (DFSS) perlu dikomuikasikan secara visual agar
memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada semua pihak yang memiliki komitmen
untuk menerapkan prinsip-prnsip Six Sigma
atau Design For Six Sigma.
5.
Aplikasi dan Keberhasilan Program Six Sigma
Six Sigma Results
Company
|
Annual
Savings
|
General Electric
|
$ 2.0+ billion
|
JP Morgan Chase
|
*$1.5 billion
(*since inception in 1998
|
Texas
Instruments
|
$600 million
|
Johnson &
Johnson
|
$500 million
|
Honeywell
|
$600 million
|
Sun has launched a
Six Sigma program “SunSigma” focused on improving product quality and
reliability (software & hardware)
6.
Jenis-Jenis Proyek Six Sigma
Berikut ini
dikutip beberapa informasi yang berkaitan berbagai jenis kasus yang pernah
diselesaikan menggunakan pendekatan Six
Sigm.
Types
of Projects:
a.
Cost
Reduction
-
Yield
and rate improvement
-
Downtime
reduction/equipment utilization
-
Raw
material selection
-
Utility
optimization (gas, steam, air, and electricity)
-
Trailer/railcar
utilization
-
Accounts
payable process
-
Corporate
credit card usage
b.
Cost
Avoidance
-
Reducing
effects of future cost increases (disposal/environmental)
-
Inventory
control
c.
Capital
Avoidance
-
Plant
utilization
-
Rate
improvement
d.
Revenue
Enhancement
-
Plant
capacity improvement
-
Tech service offering





