Konsep
Lean
Konsep lean yang kita tahu selama ini
adalah konsep yang dikembangkan oleh Toyota setelah perang dunia kedua dan
berlangsung sampai dengan tahun 1970an dan 1980an. Menurut buku “Lean
Thingking” dari James Wockmack dan Daniel lima prinsip penting dalam menerapkan
lean, yaitu menentukan nilai, mengidentifikasi value stream, membuat aliran
nilai tanpa gangguan, membuat pelanggan menarik nilai dari produsen, dan
mengejar kesempurnaan. Beberapa tools yang digunakan dalam penerapan lean
manufacturing:
- Value Stream
Mapping atau VSM adalah metode untuk
menggambarkan proses aliran material dan bagaimana proses penambahan nilai
bagi konsumen. VSM adalah alat lean yang dapat mengidentifikasikan
pemborosan dalam proses dan tindakan apa yang dapat mengurangi atau
menghilangkan pemborosan tersebut.
- Takt Time adalah interval waktu yang diperlukan untuk
memproduksi produk, part atau item
untuk memenuhi permintaan konsumen.
- Kaizen merupakan istilah jepang yang berkaiatan dengan
perbaikan yang berkelanjutan. Keizen
merupakan filosifi yang memberdayakan karyawan untuk menghilangkan
pemborosan dan mendesain serta mengimplementasikan proses yang lebih
efektif.
- 5S adalah sebutan untuk lima langkah untuk mengatur
stasiun kerja, yaitu seiri, seiton,
seiso, seiketsu, dan shitsuke.
Dalam bahasa indonesia berarti ringkas, rapi, resik, rawat dan rajin.
- Jidoka atau automasi dengan melibatkan manusi, merupakan
salah satu dari dua pilar dari Toyota
Production System yang berkaitan dengan peningkaan kualitas dengan
menghentikan produksi ketika ditemukan masalah dan melanjutkannya apabila
sudah diperbaiki agar dapat mengurangi pemborosan saat produksi.
- Single Minute
Exchnage of Dies (SMED) adalah metode yang betujuan
untuk mengrangi waktu setup pergantian antar jenis produk yang berbeda (changover).
- Poka-Yoke adalah teknik unutuk memeriksa kesalahan, digunakan
baik untuk mencegah produk cacat hasil produksi maupun untuk mencegah
peralatan produksi tidak berjalan dengan benar.
- Five Why adalah alat yang digunakan untuk mengetahui akar
masalah dengan melakukan pertanyaan “why” sebanyak lima kali.
- Standard Work adalah tugas tertentu dari operator termasuk urutan
operasi maupun wkatu operasi. Dalam industri biasa disebut dengan SOP atau
Standard Operating Procedure.
- Total Productive Maintenance (TPM) adalah teknik untuk
meningkatkan performansi manufaktur dengan cara meningkatkan kualitas
peralatan yang dioperasikan dan perawatan.
Taiichi Ohno yakin bahwa dengan
mengeliminasi pemborosan perusahaan dapat meningkatkan produktivitas dan mampu
berkompetitif. Ohno mengidentifikasi tujuh kategori pemborsan sebagai berikut :
·
Produksi berlebih (Overproduction),
perusahaan memproduksi melebihi dari permintaan konsumen, baik saat proses
berlangsung maupun setelah menjadi barang jadi. Biasanya yang menjadi permasalahan
adalah ketika proses assembly produk.
·
Waktu menunggu adalah waktu dimana
operator menunggu part atau lot selanjutnya datang, atau operator menunggu
mesin bekeja untuk memproses part sehingga part selanjutnya dapat masuk ke mesin tersebut.
·
Transportasi adalah semua perpindahan
material atau part selama proses produksi. Dalam teori menyebutkan bahwa unutuk
mengurangi transportasi makan proses produksi dilakukan dalam satu lintasan.
·
Pemborosan proses meliputi proses
penambahan atribut yang tidak memberikan nilai tambah kepada konsumen, proses
yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi cacat produk seperti inspeksi, testing, dan tes laboratorium, dan
proses perbaikan produk.
·
Inventori, semua inventori selama
proses produksi adalah pemborosan. Idealnya semua kapasitas proses harus
seimbang dan disusun secara berurutan sesuai dengan aliran material dari proses
satu ke proses selanjutnya.
·
Cacat, yang dimaksud produk cacat
adalah hasil produksi tidak sesuai dengan ekspektasi pelanggan. Kebanyakan
proses yang mengandalkan mesin, cacat berasal dari mesin yang digunakan.
·
Pemborosan dari kreatifitas operator.
Proses produksi bergantung pada kemampuan manual dari operator.
Value Stream Mapping (VSM)
Setelah melihat beberapa pemborosan
yang sering terjadi didalam proses produksi, langkah yang perlu dilakukan
adalah bagaimana kita dapat mengidentifikasi pemborosan yang terjadi dan
bagaimana kita menemukan akar masalah dari informasi yang kita miliki.
Perusahaan dapat menggunakan Value Stream
Mapping (VSM) sebagai alat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Komponen
utama dalam VSM adalah
- Aliran material : menggambarkan aliran perubahan
material dari bahan baku menjadi produk jadi yang dibutuhkan oleh
pelanggan. VSM menampilkan potongan besar dari peralatan atau sistem
pengolahan.Inventori setiap proses juga dapat diperlihatkan.
- Aliran Informasi: semua aliran informasi utama yang
memerintah apa yang harus diproduksi dan kapan harus diproduksi. Dimulai
dari permintaan konsumen, perencanaan produksi dan penjadwalan proses,
serta kontrol pada lantai produksi.
- Time line : memeperlihatkan waktu bernilai tambah dan waktu tidak
bernilai tambah, hal ini merupakan indikator apakah aktivitas tersebut
merupakanpemborosan atau bukan.
Apabila VSM yang telah dibuat akurat,
maka VSM ini dapat memiliki fungsi menjelasakan secara lebih rinci tentang
proses yang terjadi saat ini dan mengapa, memberi pengetahuan proses yang perlu
melakukan perbaikan, membuat template tentang proses yang idela pada masa
depan. Untuk menganalisis VSM proses saat ini dapat dilihat dari pemborosan
yang terjadi saat ini, aktivitas Non
Value Added (NVA) sebenarnya hampir sama dengan melihat pemborosan namun
beberapa orang lebih bisa mengenali NVA dibandingkan pemborosan, melihat aliran
dan bottlenecks atau memahami kenapa
proses yang ada sekarang tidak mengalir secara berkelanjutan dan proses mana
yang berpotensial terjadinya bottlenecks seperti utilitas yang terlalu besar
deibandingkan dengan proses lainnya. Selain itu dapat melihat bagaimana variasi
dari proses baik variasi supply lead time
ataupun variasi lead time produksi, dan
dapat juga melihat peluang yang lain seperti TPM, SMED, Cells, Product Wheels dan
Pull. Setelah memahami proses yang
terjadi sekarang serta dapat mengetahui pemborosan dan penyebabnya setelah itu
dapat membuat VSM keadaan perbaikan. Untuk membuat VSM keadaan ideal dapat
dilakukan dengan langkah sebagai berikut :
- Membuat VSM yang ideal dengan bertanya, “ Apa yang
sempurna?, benar-benar membuat pemborosan proses akan berjalan seperti
apa?.
- Membuat prioritas perbaikan apa yang paling penting dan
perbaikan mana yang akan sukses dalam implementasinya.
- Membuat VSM perbaiakn selanjutnya berdasarkan
keberhasilan implementasi sebelumnya
- Ulangi perbaikan sampai mencapai kondisi mendekati
ideal sampai teknologi memungkinkan.
Total Productive Maintenance (TPM)
Peluang-peluang lain yang dapat dilihat
untuk menerapkan lean pada proses produksi adalah Total Productive Maintenance (TPM). TPM sudah dijelaskan sebelumnya
bahwa TPM merupaka set prinsip untuk meningkatkan performa dari proses dengan
menjaga perawatan peralatan dan mesin produksi. Terdapat enam elemen kunci TPM.
·
Preventive
maintenance. Maintenance dilakukan sesuai dengan jadwal yang
ditentukan agar dapat mencegah terjadinya breakdown
mesin.
·
Predictive
maintenance. Maintenanace dilakukan berdasarkan kondisi dari
mesin, adanya sensor atau tanda bahwa mesin akan megalami breakdown.
·
Breakdown
maintenance. Memperbaiki mesin setelah mesin rusak.
·
Correcrive
maintenance. Memeodifikasi peralatan agar dapat
mereduksi frekuensi breakdown dan
membuatnya mudah untuk diperbaiki.
·
Maintenace
prevention. Mendesain peralatan agar jarang terjadi
kerusakan dan mudah untuk diperbaiki ketika rusak.
·
Autonomous
maintenance. Maintenance dilakuakn oleh operator proses
produksi.
TPM pada industri prroses sangat
penting karena sebagian besar proses produksi bergantung pada mesin
dibandingkan tenaga manusia, apabila terjadi breakdown mesin maka akan sangat menghilangkan output yang
dihasilkan perusahaan. Semakin tinggi utilitas mesin tersebut semakin perlu
dilakukan TPM pada mesin tersebut. Pemikiran dari luar bahwa TPM akan
meningkatkan biaya perawatan namun pada kenyataanya TPM dapat mengurangi
keseluruhan biaya perawatan karena karyawan yang melakukan perawatan secara
rutin dan mengurangi biaya mekanik untuk memperbaiki mesin selain itu frekuensi
breakdown yang berkurang dan
pergantian part yang sedikit.
Single
Minute Exchange of Dies (SMED)
Selain itu terdapat peluang lain yaitu
SMED. Terdapat empat prinsip dalam menerapkan SMED.
- Memisahkan setup eksternal diluar waktu changover. Mengidentifikasi
aktivitas yang biasanya dilakukan selama waktu changover yang dapat
dilakukan sebelum mesin berhenti dan produksi berhenti.
- Mengeidentifikasi setup internal yang dapat diubah.
Mengubah setup internal menjadi setup eksternal yang dilakukan sebelum
produksi berhenti.
- Menyederhanakan setup internal dengan menggunakan
alat-alat lean yang lain seperti Poka-
Yoke.
- Apabila fisibel untuk merubah setup internal menjadi
tugas yang paralel. Waktu setup dapat dilakukan dengan menambah pekerja
yang melakukan tugas secara paralel sehingga dapat mereduksi waktu.
Namun banyak setup dari segi kualitas
yang dilakukan untuk endapatkan produk yang berkualitas tinggi setelah
melakukan changover. Hal tersebut
dapat dilakukan dengan mengurangi waktu respon tes lab, menyediakan lintasan
untuk melakukan uji kualitas, meningkatkan kontrol proses untuk mereduksi
variasi, dan meningkatkan kualitas proses kimia agar mengurangi variasi produk.
Visual management
Atribut lean manufacturing yang tidak kalah penting adalah Visual management. Ohno mengartikannya
sebagai tanda untuk situasi abnormal yang dapat dilihat dan direspon. Biasanya
disebut juga sebagai 5S atau 5R dalam bahasa indonesia. Sort (seiri) atau ringkas sebagai keadaan dimana stasiun kerja
hanya ada peraltan yang diperlukan selama produksi. Straighten/set (seiton) atau rapi adalah menyusun semuanya sesuai
dengan tempatnya dan sesuai dengan aliran proses. Shine (seiso) atau resik adalah membersihkan semua area baik
lantai, dan dinding sehingga membuat lingkungan yang nyaman dan aman. Standardize (seiketsu) atau rawat adalah
membuat prosedur perawatan kebersihan stasiun kerja. Sustein (shutsuke) atau rajin adalah menciptakan pribadi karyawan
untuk tetap menjaga apa yang telah dicapai. Selain itu diperhatikan pula jadwal
produksi yang dibuat secara visual, sehingga semua pekerja dapat memahami apa
yang akan dibuat dan apa yang akan dibuat selanjutnya.
Kaizen Events
Kaizen
events dapat didefinisikan dengan beberapa cara.
Pada intinya adalah istilah yang digunakan mengenai continuous
improvement, yang menjadi inti dari lean maupun sistem produksi Toyota.
Kaizen dapat didefinisikan sebagai proses melakukan perbaikan kecil setiap
harinya, yang akhirnya mengarah pada perbaikan besar dari waktu ke waktu.
Kaizen dapat didefinisikan sebagai sikap, ditanmkan di dalam lingkungan kerja,
seluruh pekerja memiliki tanggung jawab untuk mengidentifikasi dan
berpartisipasi dalam mencari potensi perbaikan untuk proses kerja yang dijalaninya.
Definisi kaizen events menurut Productivity
Press adalah aktivitas tim yang bertujuan untuk menggunakan metode lean untuk menghilangkan limbah produksi di area lantai produksi
tertentu. Hal ini direncanakan dengan baik dan sangat terstruktur untuk
memungkinkan fokus pada penemuan akar penyebab dengan cepat dan
mengimplementasikan solusi yang didapatkan.
Keuntungan menggunakan kaizen adalah
hal yang masih mungkin untuk dilakukan, perbaikan tercapai; limbah berhasil
dihilangkan, hasil terlihat cepat, belajar lean
tools dan mendapatkan pengalaman dalam pengaplikasian, mendapatkan
pemahaman yang lebih baik pada bagian lain operasi manufaktur karena adanya
kebiasaan lintas fungsional di dalam tim kaizen, kaizen events yang sukses dapat membangun energi dan momentum di
dalam perusahaan, dan motivasi dan semangat kerja karyawan meningkat.
Tahapan di dalam proses kaizen terbagi
ke dalam 3 fasa utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan kegiatan dan tindak
lanjut. Terdapat beberapa faktor kritis agar kaizen sukses dilaksanakan, yaitu:
-
Ruang lingkup didefinisikan dengan
baik, fokus, dan mampu dicapai
-
Batas didefinisikan dengan jelas
-
Semua data dan informasi yang
diperlukan diidentifikasi dan dikumpulkan sebelum kegiatan
-
Adanya partisipasi dari perwakilan
pegawai yang melakukan atau menyentuh proses yang akan diperbaiki secara
terus-menerus
-
Adanya partisipasi penuh dari semua
anggota tim kaizen
-
Keterlibatan dan partisipasi manajemen
dalam proses
Kaizen yang dijalankan tidak semuanya
berhasil dengan baik. Alasan mengapa beberapa kegiatan kaizen gagal atau tidak
menemukan seluruh potensi perbaikan yang ada adalah perencanaan yang buruk,
drive-by kaizen, ruang lingkup yang dipilih terlalu besar, minimnya arahan dari
manajemen, dan pelaksana kaizen yang terdistraksi.
Bottleneck
Bottleneck
adalah semua sumber daya yang kapasitasnya kurang dari atau sama dengan throughput yang direncanakan, lalu mesin
atau proses yang memiliki takt rate
sama atau melebihi kapasitas. Berikut adalah karakteristik spesifik dari bottenecks yang seringkali ditemukan:
-
Akar penyebab pada umumnya terdapat
pada kapasitas peralatan dan kinerja, bukan pegawai
-
Plant
sering berjalan sepanjang waktu kerja, sehingga penambahan shift kerja bukan
merupakan solusi yang layak
-
Nonbottlenecks
dapat menjadi bottleneck karena
variabilitas faktor OEE
-
Bottlenecks
dapat berkurang atau bertambah jika menggunakan product mix
-
Bottlenecks
bisa jadi tidak terlihat jelas; pemborosan yang terjadi seringkali tersembunyi
Strategi untuk mengelola dan
mengoptimalkan bottleneck dijelaskan
oleh Eli Goldratt dalam dua karya penemuannya, The Goal dan The Theory of
Constraints, yang sudah dijadikan standar untuk penanganannya. Berikut
ringkasan yang dikemukakan oleh Goldratt mengenai bottleneck:
1. Identifikasi
bottleneck
2. Eksploitasi
bottleneck. Pastikan bottleneck sudah berjalan pada
kapasitas maksimum dan tidak membuang-buang waktu pada tugas noncritical.
3. Subordinasi
segala sesuatu untuk bottleneck.
Semua proses hulu dan hilir harus bekerja di dalam kapasitas maksimum.
4. Tingkatkan
kapasitas bottleneck
5. Setelah
satu bottleneck berhasil dihilangkan,
cari bottleneck selanjutnya dan
ulangi langkah yang sama
Product Wheels
Sebagian besar proses manufaktur akan
berjalan lebih efisien jika produksi dilakukan secara seragam. Ini akan
memberikan dampak berupa maksimasi produktivitas peralatan dan produktivitas
tenaga kerja, dan melancarkan kebutuhan akan bahan baku dan fasilitas
pendukung. Namun, permintaan dari konsumen tidak akan pernah bisa seragam.
Selalu ada faktor yang menjadikan permintaan terus bervariasi. Padahal, setiap
variasi pada lantai produksi akan menyebabkan pemborosan.
Hal ini coba diselesaikan dengan lean.
Tujuan lean adalah menciptakan aliran yang kontinu atau sangat mendekati
kontinu, untuk memproduksi dalam laju yang konstan, untuk mengeliminasi
pemborosan dari menunggu dan pemborosan produksi berlebih. Untuk menciptakan
hal tersebut, terdapat teknik lean yang bernama ‘Heijunka’. Heijunka adalah teknik melancarkan proses produksi untuk
memenuhi permintaan konsumen.
Salah satu aplikasi dari konsep
heijunka adalah konsep product wheels.
Product wheels adalah konsep yang
merupakan metafora visual yang terstruktur, teratur untuk mengulangi urutan
produksi semua material yang akan dibuat dengan menggunakan peralatan yang spesifik
dalam suatu sistem proses.
Pendekatan desain product wheels terbagi ke dalam dua perspektif, yaitu (1)
memberikan porsi dari waktu total yang dibutuhkan untuk melakukan produksi
kepada waktu set-up. Pastikan berapa lama waktu setup yang dibutuhkan dan
bagaimana pengaruhnya kepada perputaran jika waktu tersebut dilakukan untuk setup. (2) Mengingat bahwa setup memiliki biaya penalti.
Dipertimbangkan trade-off antara biaya setup dengan biaya inventori.
Postponement In The Process Industries:
Finish To Order
Postponement
atau penundaan merupakan strategi operasional yang dapat digunakan untuk
mempertahankan tingginya customer service
levels selagi mengurangi persediaan produk jadi dan barang dalam proses
secara signifikan, dan dengan demikian dapat digunakan untuk memenuhi tujuan lean untuk mengurangi inventory waste. Dari beberapa pendapat
para ahli, postponement bisa menjadi
dua hal, yaitu mengembangkan desain peralatan dan peralatan yang sudah ada
dapat digunakan secara lebih menguntungkan.
Finish
to order (FTO) adalah special case dari postponement. Postponement yang
mengandalkan lokasi penyimpanan digunakan untuk memenuhi permintaan saat ini
dibandingkan memenuhi kebutuhan desain peralatan dirasa lebih berguna. Terdapat
beberapa keuntungan dari Finish to Order
(FTO), yaitu mengurangi ketergantungan terhadap hasil peramalan, mereduksi
inventori produk jadi, melakukan perbaikan pada customer service levels, dan mereduksi total inventori.
Pull Replenishment System
Pull
system adalah sistem yang memproduksi untuk
mengisi kembali material yang telah digunakan, atau material yang diperlukan
segera oleh perusahaan, dan di mana aliran dikelola dan disinkronkan dengan
kondisi operasi perusahaan. Pull system membawa
dampak baik, yaitu mereduksi atau mengeliminasi produksi berlebih, sinkronisasi
aliran terhadap permintaan, dan simplifikasi tugas managerial yang berhubungan
dengan penjadwalan produksi.
Visual
signals sangat berperan penting di dalam pull system. Di dalam pull system, dikenal istilah “Kanban”.
Kanban merupakan inti dari konsep pull
system Toyota yang berarti sinyal atau visible
sign. Kanban sering berupa kartu yang menjadi penanda atau sinyal jika suatu container kosong dan perlu dilakukan produksi kembali untuk mengisi
container kosong tersebut.
Pull system akan lebih mudah untuk
diaplikasikan jika proses produksi sudah dibagi ke dalam level-level
menggunakan konsep ‘Heijunka’ dan pull system merupakan bagian terakhir
dari proses implementasi lean.
Sebelum mendesain dan
mengimplementasikan pull system,
terdapat beberapa aktivitas yang perlu diselesaikan terlebih dahulu, yaitu.
1. Pastikan
bahwa perusahaan sudah memiliki Value Stream Mapping (VSM) yang akurat
2. Optimasikan
aliran dan reduksi variasi proses
3. Pastikan
bahwa semua bottlenecks sudah teridentifikasi, teroptimasi, dan prinsip-prinsip
di dalam constraint management
diikuti dengan baik
4. Implementasikan
cellular manufacturing dengan benar
5. Putuskan
apakah metode product wheels cocok
atau tidak, jika iya, pastikan bahwa desain product
wheels yang digunakan up to date
The Supermarket Design
Makna kata ‘supermarket’ adalah merujuk
pada inventori yang dikelola dengan cara sistem tarik dan penyimpanannya mirip
seperti food supermarket, yang
berarti setiap spesifik produk memiliki lokasi penyimpanan sendiri-sendiri.
Lalu, kuantitas di dalam penyimpanan tersebut akan berkurang sesuai dengan
kuantitas yang diambil konsumen yang akan segera diisi kembali dengan jumlah
kuantitas yang sama persis, tidak boleh kurang maupun lebih. Hal ini merupakan
salah satu hal yang ditekankan pada lean.
Lean memiliki prinsip yaitu bekerja
dengan ukuran lot yang lebih kecil dan produksi yang lebih sering akan
mengurangi jumlah setiap produk yang dibutuhkan di ‘supermarket’ (gudang),
serta mengurangi ruang yang dibutuhkan untuk menyimpannya. Berikut adalah
aturan yang harus diperhatikan saat mengelola inventori dengan ‘supermarket’:
1. Pabrik
diizinkan untuk memproduksi barang hanya sebanyak jumlah yang sudah diambil
dari lokasi penyimpanan
2. Penggunaan
material harus diberi tanda dengan menggunakan cara visual
3. Material
yang masuk ke dalam lokasi penyimpanan tidak boleh mengandung material cacat
4. Harus
adanya proses yang berjalan dan berkelanjutanuntuk mereduksi jumlah material
yang dibutuhkan di lokasi penyimpanan
Inventori sendiri terdiri dari dua
komponen, yaitu cycle stock dan safety stock. Cycle stock adalah jumlah spesifik produk yang harus diproduksi
selama siklus produksi, untuk memenuhi permintaan dari konsumen selama siklus
penuh. Safety stock adalah sejumlah
material yang disediakan untuk memenuhi permintaan dalam kondisi di mana
permintaan yang sebenarnya lebih tinggi dari yang diharapkan, atau di mana
siklus produksi berikutnya mulai terlambat. Safety
stock dapat digunakan untuk mengakomodasikan variabilitas permintaan
konsumen, hasil peramalan yang kurang tepat, variabilitas supply lead time, dan variabilitas kuantitas supply.
Peramalan terhadap demand juga
merupakan sesuatu yang sangat penting. Besarnya produksi seringkali didasarkan
pada hasil peramalan saat menggunakan sistem produksi dorong. Untuk sistem
produksi tarik, peramalan membantu dalam meningkatkan service levels dengan rata-rata level inventori rendah.
Pentingnya
Kepemimpinan & Proses Bisnis
Saat akan mendesain,
mengimplementasikan, dan mengeksekusi lean production di perusahaan, peran dari
manajemen sangat penting terutama dalam tuntunan dan arahan. Lean akan lebih
berhasil jika dipandu oleh kepemimpinan yang tepat dan target kinerja yang jelas.
Leader harus menciptakan dan mengkomunikasikan visi yang kuat dan jelas
mengenai dampak dari aplikasi lean pada operasi perusahaan. Manajemen harus
mengikat, melatih, dan memberdayakan seluruh tenaga kerja untuk membuat lean
berhasil.
Terdapat beberapa spesifik bisnis
proses yang harus didefinisikan dengan baik agar memiliki target yang tepat
untuk segera dieksekusi, yaitu ABC
Classification, Customer Lead Time,
Customer Service Levels, MTS, MTO,
dan FTO, analisis variabilitas permintaan, safety
stock, rasionalisasi hasil produksi, dan integrated business and operations planning.
Pustaka
Utama:
Liker, J. (2003). The Toyota Way: 14 Management Principles from the Great World’s
Manufacturer, McGraw-Hill.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar