BAB
1
TREN
BARU DI DUNIA LEADERSHIP
Bisnis terkemuka Business News Daily, sebuah
majalah pernah mewawancarai 30 orang CEO dan pemilik bisnis terrkemuka tentang
arti leadership atau kepemimpinan.Jawaban meraka ternyata beragam. Salah
seorang CEO menggambarkan leadership sebagai kemampuan membimbing dan
memotivasi orang lain agar bekerja secara maksimal.
Definisi berbeda dikemukakan oleh seorang
pe,ilik bisnis sukses yang mengembangkan potensi mereka melalui pembekalan
pengetahuan dan keterampilan.
Jika anda seorang manajer di
perusahaan,mungkin anda punya definisi sendiri tentang leadership. Leadership
bias dimaknai berbeda tergantung dari posisi dan peran kita dalam sebuah
organisasi. Tidak seperti baju anak muda sekarang yang ‘one-size-fits-all’,
kita menterjemahkan kepemimoinan sesuai dengan konteks tujuan yang ingin
dicapai.
Namun terlepas dari keragaman definisi
diatas, pada dasarnya seorang leader atau pemimpin adalah:”individu yang mampu
memengaruhi orang lain dan menjalin kerjasama dengan mereka untuk mencapai
tujuan”.
TREN PERUBAHAN LEADERSHIP
Dua puluh tahun yang lalu,misalnya tidak
jarang kita jumpai perusahaan yang dipimpin oleh pemimpin yang autocratic. Ia
mengambil semua keputusan tanpa berkonsultasi dengan anggota timnya, meskipun
input mereka mungkin baik. Ia merasa dengan gaya seperti itu kendali sepenuhnya
ada ditangannya dan pengambilan keputusan bias berjalan cepat.
Perusahaan yang bergerak di industry
manufaktur,pertambangan dan makanan cepat saji secara tradisional identic
dengan gaya kepemimpinan yang autocratic Karena sifat industrinya yang
membutuhkan control dan pengawasan yang ketat sesuai prosedur.
Namun bayangkan jika gaya autocratic ini
diterapkan pada anak anak zaman sekarang yang kita kenal punya banyak ide.
Mereka adalah generasi Millenia atau istilah lainnya Gen Y yang mulai menduduki
posisi-posisi penting di perusahaan.
Keberadaannya ingin diakui dan mereka bias
dengan mudah pindah ke perusahaan lain bila tisak menyukai lingkungan
kerjanya.Tentunya yang akan rugi adalah perusahaan itu sendiri Karena biaya dan
waktu telah diinvestasikan untuk mendidik mereka hingga ke jenjang strategis.
Perkembangan zaman dengan beruabahnya
generasi ini memunculkan tren baru didunia leadership. Tren yang pertama di era
millennium ini banyak perusahaan modern menerapkan pendekatan leadership yang
bersifat customized dimana seorang pemimpin harus mampu mengubah gya
kepemimpinannya secara situasional sesuai kebutuhan.
Fokusnya pada amnesia terrmasuk
mempertimbangkan factor perrbedaan generasi yang dipimpin.Saat ini manusia
dipandang sebagai aset penting perusahaan (human capital) yang potensinya layak
dikembangkan,bukan lagi seperti mesin yang menunggu diperintah layaknya zaman
revolusi industri dulu.
Tren yang kedua terlihat di aspek
kepemimpinan yang mempertimbangkan faktor lintas budaya.Saat ini banyak
perusahaan lokal dan multinasional yang karyawannya berasal dari berbagai macam
suku dan kewarganegaraan. Perusahaan akan sukses bila pemimpinnya mampu
memahami perbedaan kultur dalam berkomunikasi dan membangun hubungan dengan
karyawannya.
Dan yang ketiga tren kedepan memperlihatkan
semakin banyak pemimpin-pemimpin muda yang menempati posisi eksekutif di
organisasi. Sejak awal meraka telah dipacu untuk berpikir kreatif dalam
mengatasi kompleksitas bisnis.
Mereka tidak lagi dibiarkan berpikir
sendiri-sendiri.Pihak perusahaan mulai menyediakan sarana agar mereka bias
saling berinteraksi merumuskan pemikiran baru untuk mengatsu tantangan ke
depan. Ide pengembangan perusahaan tidak lagi selalu untuk menyalurkan
ide-idenya melalui suatu system kolaborasi. Konsep kepemimpinan seperti ini
dikenal dengan istilah distributed
leadership.ng
TREN PERTAMA : CUSTOMIZED APPROACH
Didorong oleh paradigm baru yang
menyakinibahwa manusia merupakan aset yang potensinya bisa dimaksimalkan kalua
kita mampu mengenali apa saja yang menjadikan kekuatan,motivasi dan sumber
inspirasi dirinya. Pendekatannya pun lebih customized, tidak lagi bersifat
general yang menyamarakan semua orang.
Banyak perusahaan di era modern yang
menerapkan prinsip rotasi antar departemen bagi para managernya. Tujuannya agar
para manajer mampu memahami keseluruhan proses bisnis organisasi dan juga
menyadari dimensi psikologis orang-orang di area pekerjaan yang berbeda.
Pada awalnya memang sulit. Seperti dialami
oleh seorang Manajer IT (information Technology) yang dipindah ke departemen
marketing. Ia menghadapi “perlawanan” dari timnya Karena gaya kepemimpinannya
yang “task-oriented”. gaya ini terbukti
berhasil di departemen IT Karena semuanya berbasiskan pada algoritma dan
logika. Namun dunia marketing berbeda. Di sini prosesnya dinamis dan
membutuhkan fleksibilitas dalam mengambil keputusan. Ia pun belajar untuk
memberi ruang improvisasi dan banyak melibatkan timnya dalam pemecahan masalah.
Sebagai pemimpin, ia menyadari kebutuhan untuk melakukan perubahan
perilaku,tidak semata-mata focus pada hasil yang ingin dicapai.
Intinya, sebagai pemimpin kita ingin
memahami manusia lebih dari sekedar orang yang menjalankan pekerrjaan namun
juga sebagai individu yang memiliki pengetahuan, pengalaman dan perilaku yang
beragam. Ini penting agar pengelolaan dan pengembangan individu di organisasi
bias disesuaikan dengan kebutuhan mereka, istilahnya “customized approach”.
|
General Approach
|
Customized Approach
|
|
Pendekatan leadership umum
|
Pendekatan leadership individu
|
|
Training based
|
Coaching based
|
|
Cenderung satu arah
|
Bersifat dua arah
|
|
Orientasi pada task
|
Orientasi pada behavioral change
|
|
Satu metode untuk semua
|
Mempertimbangkan aspek diversity (keragaman)
|
TREN KEDUA : FROM LOCAL TO GLOBAL
Studi tentang global leadership yang
dilakukan oleh DDI, sebuah konsultasi talent management di Inggris,menyatakan
bahwa salah satu hal yang menjadi perhatian di era millennium ini adalah
kemampuan eksklusif perusahaan untuk memimpin lintas negara dan lintas budaya,terlepas
dari besar atau kecilnya organisasi. Hal ini bias dipahami Karena bisnis
berkembang tidak hanya secara local di suatu negara tapi juga merambah antar
negara dalam kawasa ekonomi.
Di Asia Tenggara,misalnya akan terjadi
perubahan besar seiring diterapkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang
menyatukan kawasan ini sebagai pasar tunggal dan basis produksi. Sebagai satu
kawasan ekonomi MEA saat ini menempati posisi ketujuh terbesar didunia dan
diprediksi akan naik keposisi keempat di tahun 2050 jika tren perkembangan
berlanjut.
Salah satu konsekuensinya kita akan lebih
banyak meliaht pekerja asing memasuki Indonesia dan sebaliknya talenta dalam
negeri pun punya kesempatan untuk erkarya di negara lain. Secara bisnus akan
lebih mudah bagi perrusahaan untuk membuka cabang diluar negeri dan melakukan
rekrutmen karyawan dinegara tersebut.
Perkembangan bisnis antar negara ini akan
terus berlanjut seiring globalisasi yang tak terhindari. Di aspek
leadership,pemimpin perlu belajar memahami karakter manusia yang dipengaruhi
oleh latar belakang budaya berbeda. Lebih dari itu,budaya tidak hanya berkaitan
dengan kewarganegaraan tapi juga etnis dan bahkan perbedaan antargenerasi.
|
LOCAL LEADERSHIP
|
GLOBAL LEADERSHIP
|
|
Bekerja dalam kultur local
|
Memahami keragaman kultur
|
|
Pendekatan sama untuk semua generasi
|
Mempertimbangkan aspek perbedaan generasi
|
|
Environment cenderung stabil
|
Environment komleks dan dinamis
|
|
Sukses diukur berdasarkan kinerja
|
Sukses diukur berdasarkan kinerja dan hubungan
dengan orang lain
|
TREN KETIGA : DISTRIBUTED LEADERSHIP
Salah satu tren didunia leadership yang
perkembanganya akan kita lihat semakin popular dimasa depan adalah :
DISTRIBUTED LEADERSHIP. Secara sederhana distributes leadership membagi
tanggung jawab pelaksanaan suatu pekerjaan kepada sekelompok individu yang
dipilih berdasar kompetensinya terlepas dari posisi structuralnya di
organisasi.
Individu-individu tersebut dianggap sebagai
“collective leader” yang menggantikan posisi “super leader” sebuah istilah yang
menggambarkan seorang pemimpin serba bias yang bertanggung jawab atas semua
keseluruhan pekerjaan.
Anggota collective leader tidak terikat
pada jabatan secara hirarki. Mereka bias saja berasal dari departemen dan
posisi yang berbeda. Mereka diberi tugas untuk menjalankan suatu inisiatif di
organisasi,misalnya berupa proyek melalui serangkaian interaksi yang
kolaboratif.
Dalam banyak hal distributed leadership
memicu individu untuk berpikir kreatif,bahkan diluar bidang keahliannya. Ini
merupakan salah satu sarana pendewasaan seseorang untuk menjadi leader yang
mampu memahami kompleksitas suatu proses melalui cara pandang multidimensi.
Tantangan yang dihadapi salah satunya
adalah perbedaan kompetensi antar individu yang terlibat. Oleh Karenanya
seringkali dibutuhkan seorang coach facilitator yang berperan membantu mereka
melihat dari berbagai macam sudut pandang dan memastikan semua orang
berpartisipasi aktif menyuarakan ide-idenya.
|
SINGLE LEADERSHIP
|
DISTRIBUTED LEADERSHIP
|
|
Ide cenderung berasal dari satu orang di posisi tertentu
misalnya ; manajer
|
Ide berasal dari kelompok beberapa orang dalam
working group (kelompok kerja)
|
|
Keputusan sifatnya top down
|
Keputusan terdistibusi dan disesuaikan dengan area
tanggung jawab
|
|
Struktur bersifat hirarki
|
Struktur dalam system network
|
|
Proses directive
|
Proses collective
|
PERAN COACHING DALAM PENGEMBANGAN
LEADERSHIP MODERN
Coaching kerap disalah artikan sebagai
memberitahu dan mengajari. Kita sering mendengar seorang manajer yang
mengatakan setiap hari ia melakukan coaching pada anak buahnya. Padahal
kenyataannya yang ia lakukan adalah memberikan instruksi dan kadang ikut turun
tangan memperbaiki masalah.
Coaching sebagai teknologi pemberdayaan
manusai melihat setiap orang sebagai individu yang memiliki aspirasi,keinginan,
kebutuhan sekaligus juga kekurangan dan hambatan mental. Melalui pendekatan
yang bersifat kemitraan, seorang coach mendengarkan, memetakan, dan menggali
apa saja yang bias membantu individu tersebut keluar dari keterbatasannya
sehingga semua potensinya muncul. Sepintas mungkin terdengar mudah, namun pada
praktiknya seorang coach membutuhkan kompetensi tertentu dari kemampuan
berpikir strategis.
Coaching focus pada pencapaian tujuan.
Seorang coach membantu individu merencanakan strategi pengembangan kedepan dan
menyiapkan serangkaian “action plan” yang bias mendorongnya keluar dari zona
nyaman. Dalam prosesnya terjadi tukar pikiran dalam suatu percakapan yang
sifatnya eksploratif.
Ide merupakan sesuatu yang dihargai dalam
proses coaching. Tidak ada ide yang jelek, se,ua ide ditampung dan disaring
untuk mengetahui mana yang bias ditidaklanjuti dan mana yang dikaji ulang.
Dalam konsep distributed leadership, coaching memastikan setiap orang
accountable terhadap ide yang ia keluarkan. Artinya ia tidak hanya mengutarakan
ide saja tapi juga dimintai untuk aspirasi aktif merumuskan langkah demi
langkah agar ide tersebut bisa terealisasi.
BAB
2
COACHING
INSIDE OUT
Coaching pada awalnya popular didunia
olahraga. Coach atau pelatih membangun hubungan professional dengan seorang
atlet untuk mengembangkan kemampuannya dalam kurun waktu tertentu. Hubungan
dijalin secara kemitraan untuk mencapai target prestasi tertentu. Tidak jarang
coach juga membantu si atlet dalam mengatasi isu dan tantangan yang sifatnya
nonteknis.
Di dunia leadership,prinsip coaching yang
sama juga diterapkan kedalam aspek pembangunan SDM. Di decade terakhir ini
hamper semua praktisi leadership berbicara tentang coaching khususnya untuk
peningkatan kinerja yang bersifat “customized”. Coaching memperlakukan setiap
individu berbeda dengan mempertimbangkan kekuatan, potensi, dan juga factor
mental yang menghambat dirinya.
Sama halnya dengan olahraga,coaching
didunia leadership pun dapat diberikan
kepada beberapa orang atau kelompok. Mereka bias berasal dari area pekerjaan
yang sama ataupun lintas bidang. Untuk katagori coaching kelompok ini istilah
yang dipakai adalah team coaching atau group coaching. Para individu dalam
kelompok ini menjalani proses coaching yang sama untuk mencapai tujuan tertentu.
Riset yang dilakukan oleh ICF
(International Coach Federation) secara global pada tahun 2009 memberikan data
bahwa coaching terbukti meningkatkan produktivitas hingga 70% dan perusahaan
yang menerapkan coaching memperoleh ROI (Return On Investment) sebesar 86% dari
nilai investasi yang ditanamkan.
APA ITU COACHING ?
Selanjutnya menjelaskan metodologi dasar
coaching yaitu : membangkitkan potensi untuk memaksimalkan prestasi disini bias
diartikan secara umum sebagai kinerja atau pencapaian.
Pada intinya bahwa coaching membantu anda
untuk belajar dibandingkan diajari. Setiap orang punya kemampuan belajar, yang
diperlukan adalah orang yang bias menjadi mitra anda berpikir dan menyadari
potensi yang anda miliki.
Organisasi coaching dunia yang bernama ICF
(International Coaching Federation) memperjelas prinsip dan metodologi coaching
yang kita anut sekarang, melalui riset yang seksama dan pengkajian yang ketat,
organisasi non profit yang didirikan tahun 1995 ini membuat standar global yang
mengatur etika dan kompetendi coaching yang diperlukan oleh seorang coach.
ICF sendiri mendefinisikan coaching sebagai
: “Hubungan kemitraan dengan individu melalui proses kreatif untuk
memaksimalkan potensi personal dan professional”.
Dari definidi tersebut kita bisa Tarik
beberapa prinsip penting antara lain :
1.
Coaching merupakan hubungan
kemitraan secara professional yang dibangun antara coach dan coachee (orang
yang menerima coaching) untuk mencapai tujuan yang disepakati Bersama.
2.
Coaching melibatkan proses
berpikir kreatif yang didalamnya ada pengamatan “non judgemental”, pemetaan
situasi dan penggalian ide.
3.
Coaching focus pada
pengembangan potensi diri untuk memaksimalakan pengetahuan, kecakapan< dna
kekuatan yang sudah disadari.
4.
Proses membangkitkan kesadaran
diawali dari pengenalanpola perilaku, termasuk kebiasaan, kelemahan dan
hambatan mental yang dimiliki.
MEMAKSIMALKAN POTENSI
Dalam coaching potensi yang dimaksud
meliputi :
1.
Knowledge atau pengetahuan
2.
Skill atau kecakapan
3.
Talent atau talenta
4.
Strength atau kekuatan sebagai
kombinasi dari semua.
Knowledge
meliputi semua hal yang kita ketahui dari hasil
proses belajar baik melalui mambaca, duduk dikelas,maupun berdiskusi dengan
orang lain.
Skill
merupakan pengetahuan yang kita pratikkan dan
dilatih terus menerus sehingga menjadi kecakapan. Dari praktik yang dijalankan,
pengetahuan kitapun bertambah dalam bentuk pengalaman.
Talent
sendiri tidak sama dengan bakat bawaan atau aptitude. Dibeberapa tahun terakhir ini
pengertian talent banyak merujuk pada buku popular Tulisan Donald O Clifton dna
marcus Buckingham yang berjudul Now, Discover Your Strength. Di buku tersebut
mereka mendifinisikan talent sebagai pola pikiran (thought), perasaan (feeling)
dan perilaku (behavior) yang muncul secara natural
Dari definisi tersebut, talent yang
dimaksud lebih bersifat mental yaitu kecenderungan psikologis diri kita dalam
merespon suatu kejadian dengan cara berpikir, merasakan dan bertindak yang
masing-masing orang berbeda-beda.
BAB
3
LEADER
AS COACH
Perlu diketahui salah satu alasan orang
bekerja adalah uang. Tapi yang menarik ketika mereka bertanya, “Apa yang bisa
membuat anda betah dipekerjaan?”. Jawaban mereka bukan gaji yang lebih besar.
Pada umumnya mereka mengingkan dua hal : lingkungan kerja yang baik
dankesempatan untuk berkembang. Ada factor non material yang merka harakan
disamping tentunya hal lain yang diukur seperti uang.
Dalam beberapa hal, kita kerap membutuhkan
seorang pemimpin yang mampu memegang control dan memerintah. Namun akan lebih
baik bila gaya kepemimpinannya focus pada hasil akhir ini diimbangi dengan
kemampuan mendengar,memahami dan mengembangkan orang yang dipimpinnya.
Orientasinya bukan semata-mata pada hasil, namun juga memperhatikan aspek ingin
moral dan hubungan antar manusia. Dalam kata lain, sebagai pemimpin kita ingin
menerapkan prinsip-prinsip coaching ke dalam praktik kepemimpinan sehari-hari,
istilah Leader as Coach.
Pada akhirnya hasil yang dicapai melalui
pendekatan leader as coach akan jauh lebih baik diabndingkan gaya control and
commond yang menggunakan kekuasaan untuk memmeranguhi orang lain. Menjadi
pemimpin sekaligus coach artinya anda focus pada orang yang anda pimpin.
MAMPUKAH SEORANG PEMIMPIN MENJASDI COACH ?
Jawban singkatnya Ya. Perubahan generasi, terutama dengan munculnya
Generasi Y, dan berkembangnya system Pendidikan modern yang lebih menghargai
kreativitas membuat pendekatna leadership yang berbasiskan perintah semakin
ditinggalkan. Bertahun-tahun kita mengenal Trasactional Leadership, gaya
kepemimpinan yang mengutamakan pengawasan ketat melalui reward (penghargaan)
dan punishment (hukuman).
Dibeberapa aspek, gaya kepemimpinan seperti
ini masih bisa diterapkan. Namun dalam konteks Leader as Coach, kita akan lebih
cocok mengadopsi gaya. Trasformational
Leadership yang mengedepankan komunikasi, kolaborasi dan komitmen bersama antar
leader dan orang orang yang dipimpinnya.
|
TRANSACTION LEADERSHIP
|
TRASFORMATIONAL LEADERSHIP
|
|
Leader memberikan perintah berdasarkan struktur
hirarki
|
Leader melakukan coaching untuk membuat komitmen
Bersama
|
|
Asumsi orang bermotivasi bila ada reward dan
punishment
|
Asumsi orang termotivasi bila mereka diajak
berbicara dan dilibatkan
|
|
Digunakan untuk menjaga konsistensi dan stabilitas
|
Digunakan untuk menciptakan perubahan melalui ide Bersama
|
|
Efektif dalam masa krisis dan keadaan darurat
|
Efektif untuk mendukung pertumbuhan organisasi
|
COACHING UNTUK PENGEMABNGAN INDIVIDU
Dalam konteks pengembangan individu ini
barangkali ada baiknyasaya menyinggung sedikit tentang mentoring, sebuah
terminology yang sering diartikan sama dengan coaching. Kata mentoring sendiri
terinspirasi oleh seorang tokoh bijak yang bernama Mentor di mitologi Yunani
tentang perjalan panglima perang Odysseus. Disitu diceritakan Odysseus harus
meninggalkan putri kecilnya, Telemachus untuk berperang melawan Troy. Menyadari
perjalananya akan memakan waktu bertahun-tahun , Odysseus menemui
sahabatnya,Mentor dan mengatakan, ‘Ajari
anakku semua yang engkau ketahui sampai ia bisa’. Sejak hari itu Telemachus
kecil mendapatkan bimbingan pengetahuan dan keterampilan dari orang kepercayaan
ayahnya.
Prinsip mentoring disini erat kaitannya
dengan membimbing seseorang hingga ia kompeten.Baik mentoring maupun coaching
mempercayai seseorang bisa berkembang bila ia didampingi oleh orang lain.Pendampingan dalam mentoring diberikan
oleh orang yang lebih senior dan ahli dibidangnya.
Dalam coaching, keahlian disuatu bidang merupakan
keuntungan. Namun yang lebih penting adalah kemapuan coach untuk memberdayakan
dan memaksimalkan potensi si individu batas kemampuan saat itu.
Dalam Coaching seorang pemimpin membantu
individu untuk menata pikiranya, dengan bantuan sang pemimpin semua pengetahuan
dan pengalaman yang dimiliki dirangkai menjadi suatu bentuk strategi yang bisa
membantunya mengatasi hambatan dan menentukan rencana tindakan berikutnya.
Tukar pikiran atau brain stroming tidak jarang terjadi dalam proses coaching
ini.
MENGINTEGRASIKAN COACHING KE DALAM PRAKTIK
LEADERSHIP
Dipraktik leadership,coaching bisa
dilakukan secara terstruktur dalam kurun waktu tertentu, 6 bulan hingga 2
tahun, untuk mencapai tujuan seperti :
·
Succession planning, pemimpin menyiapkan individu untuk menggantikan
posisinya.
·
Developing talents, pemimpin mengembangkan individu-individu
bertalenta yang kinerjanya sudah bagus agar potensinya di tim bisa lebih
termaksimalkan.
·
Performance improvement, pemimpin
memberikan coaching kepada timnya dengan tujuan mencapai target yang lebih
melalui pengembangan ide dan perubahan perilaku.
Jack Welch, mantan CEO General Electric,
pernah mengatakan, “the job of a leader is to become smarter through
conversation.” Seorang pemimpin selayaknya menjadi lebih pintar dari
percakapannya dengan orang-orang disekelilingnya. Caranya dengan bertanya dan
menggali informasi dari mereka Sebagai pemimpin, kapan anda bertanya untuk
menggali dan kapan anda langsung saja memeberikan instruksi? Dalam kata lain,
kapan anda memutuskan menggunakan coaching atau tidak. Ada saat-saat dimana
anda perlu mengamati secara situasioanal :
·
Dalam keadaan mendesak
(misalnya, situasi krisis yang membutuhkan res[on cepat) memberikan perintah
atau mengerjakan sendiri,mungkin cara yang paling efektif.
·
Dalam trasisi perubahan
menujutujuan jangka panjang yang memerlukan keterlibatan semua orang, coaching
untuk membangkitkan kesadaran dan ide-ide kreatif akan sangat diperlukan
·
Dalam proses pembelajaran yang
menekankan pada pengenalan potensi,pendekatan coaching akan sangat tepat untuk
membuat orang mengamati dirinya dan menemukan kekeuatannyasendiri.
COACH INTERNAL DIORGANISASI DAN COACH
EKSTERNAL
Saat ini di Indonesia banyak perusahaan
yang menggunakan coach internal dalam inisistif coaching diorganisasi. Kalaupun
ada, umumnya perusahaab tersebut adalah multinasional yang pusatnya di Eropa
dan Amerika dimana coaching telah mencapai level maturity tertentu. Meskipun
begitu , realitanya coach eksternal tetap menjadi piliha untuk coaching
ditingkat top executive organisasi. Sementara coach internal banyak mengambil
peran untuk coaching layer manajemen menegah kebawah.
Tren keberadaan coachinternal di Indonesia
saat ini mulai terliaht dengan masuknya coaching sebagai salah satu kompetensi
yang harus dimilki oleh setiap pemimpin di organisasi baik perusahaan swasta
maupun BUMN. Kesadaran para pemimpin untuk mengambil oendidikan coaching secara
formal pun meningkat.
Saat ini peran coach internal umumnya,
dirangkap oleh manajer yang telah dibekali kompetensi coaching. Organisai
mengadopsi prinsip Leader as Coach yang mengharuskan setipa orang diposis
manajer keatas melakukan coaching kepada anak buahnya. Aplikasi coach internal
lainnya sering dijumpai di organisasi yang melakukan program coaching bagi
Management Trainee. Mereka adalah individu-individu berprestsi lulusan
perguruan tinggi yang direkrut melalui proses seleksi ketat. Sambil menjalani
on-the-job training yang rentang waktunya satu hingga dua tahun, mereka
mendapatkan coaching dari beberapa manajer di area bisnis yang berbeda.
Mengamati tren inidan seiriang dengan
proses pendewasaan coaching di Indonesia. Kita bisa memprediksi dalam beberapa
tahun mendatang aka nada orang-orang yang memang secara khusus ditunjuk untuk
memegang peranan sebagai coach internal. Budaya coaching di organisasi tersebut
sudah cukup matang. Selain pemimpin yang melakukan coaching, organisasi pun
menyediakan struktur, termasuk compensation and benefit, abgi kehadiran coach
internal secara formal.
BAB
4
COACHING
UNTUK GENERASI Y
Saat ini Generation Y atau singkatanya Gen
Y ini sudah banyak bejerha diperusahaan. Dikisaran usia mereka antara 18 dan 32
tahun, sebagian bahkan telat menempati posisi-posisi penting di organisasi.
Dengan populasi yang makin hari makin bertambah, pihak perusahaan mau tidak mau
perlu memperhatiakn keberadaaan mereka. Pendekatan yang selama ini terbukti
ampuh terhadap generasi sebelumnya, ternyata tidak terlalu efektif bagi
anak-anak muda ini.
Kasus semacam Aldi ini sering ditemui di
perusahaan. Gen Y tidak betah bekerja dengan atasan yang dominan. Tidak seperti
Gen X yang cenderung taat pada perintah, mereka adalah generasi yang berani
berbeda pendapat, percaya diri dan memiliki ambisi besar. Bagi mereka opsi
bekerja sangat banyak. Karier tidak harus dititi dari satu perrusahaan. Banyak
pilihan diluar sana, dan kalaupun tidak bekerja kantoran masih banyak bidang yang
mereka bisa tekuni secara independen sebagai entrepreneur.
Cara mereka melihat lingkungan kerja pun
berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka tidak memilih jam kerja panjang demi
menapaki jenjang karir di perusahaan. Bekerja fleksibel dan menyeimbangkan
antara kehidupan kantor dan pribadi (work-life balance) merupakan sesuatu yang
penting. Sejak kecil Gen Y terbiasa melihat orang tua mereka bekerja hingga
larut malam. Ini yang membuat mereka memiliki persepsi bahwa kehiduapan
keluarga seharusnya lebih utama dibandingkan Cuma bekerja dan bekerja.
Disisi lain< Gen Y menyukai keterbukaan.
Bekerja dalam satu kelompok lebih menyenangkan daripada bekerja
sendiri-sendiri. Pertemuan rutin untuk berkolaborasi dengan rekan kerja
membantu mereka untuk saling berbagi ide. Gen Y ingin melibatkan dan
diperhitungkan. Mereka berharap ada keterbukaan dan trasparansi dalam
komunikasi anatar personal di organisasi dari level manajemen hingga staff.
5 PERSEPSI SALAH TENTANG GEN Y
1.
MISPERSEPSI GEN Y GAMPANG BOSAN
Okay, memang benar
rata-rata Gen Y pindah kerja setiap dua tahun. Akan ttapi ini bukan Karena
mereka gampang bosan dan sulit betah di satu tempat. Millennials tumbuh dengan
akses tak terbatas yang disediakan internet. Mereka banyak membaca hal-hal baru
dan punya keinginan kuat untuk mencoba. Pada dasarnya mereka ingin mendapatkan
pengalaman sebanyak-banyaknya mumpung masih muda. Ketika kesempatan untuk
mencoba hal baru tidak tersedia diperusahaan, mereka akan dengan mudah memilih
tempat lain.
2.
MISPERSEPSI GEN Y TIDAK MENGHORMATI
SENIORNYA
Salah satu hal yang paling
dikeluhkan oleh para senior diorganisasi adalah ketika Gen Y tidak
bersikap santun saat berpapasan atau
bahkan ketika berinteraksi di meeting. Perlu dipahami bahwa sebagian besar
Millennials tidak dibesarkan dikeluarga yang orang tuanya menuntut untuk
dihormati.
Mereka tidak akan sekedar
mengikuti seseorang Karena diharuskan> Rasa hormat akan timbul dengan
sendrinya jika orang tersebut menunjukkan sikap yang bisa dipercaya dan
kompeten dibidangny. Kita tidak bisa menuntut sikap hormat dari Gen Y tanpa
membangun kepercayaan. It is something
you must.
3.
MISPERSEPSI GEN Y ITU EGOIS DAN
NARSIS
Stereotype yang juga kita sering dengar
adalah Gen Y itu susah diatur. Mereka narsis dan mementingkan diri sendiri. Anggapan
itu tidak sepenuhnya benar, Gen Y umumnya punya dorongan yang kuat ketika
mereka menginginkan sesuatu. Merrak ambisius dan percaya diri. Role model
sukses pendiri facebook dan go-jek banyak menginspirasi. Gen Y haus akan
kesempatan pengembangan.
Anggapan egois biasa
muncul Karena mereka cenderung menggunakan caranya sendiri untuk mencapai
sesuatu. Padahal ini bisa diatasi dengan memberika kesempatan kepada emreka
untuk berkreativitas diluar cara yang umumnya dilakukan oleh generasi
sebelumnya. Kebutuhan mereka untuk mereka untuk mendapatkan pengakuan atas
karyanya seringkali disalah mengerti sebagai narsisme. Organisasi perlu
memikirkan system penghargaan, selain yang berkaitan dengan kinerja formal,
untuk membuat mereka merasa diakui. contohnya mendapatkan cuti kerja selama
seminggu untuk liburan yang diberikan akan prestasi kerja.
4.
MISPERSEPSI GEN Y TIDAK
MENGIKUTI ARAHAN
Mesin pencari Google
adalah teman akrab Gen Y. Bagi mereka, banyak cara untuk menyelesaikan tugas selain arahan dari
atasan. Sedikit fleksibelitas kita perlukan untuk mengizinkan mereka
bereksperimen. Kalaupun hasilnya ternyata gagal, selalu ada ruang untuk
mendiskusikan pembelajaran.
Kesepakatan terhadap KPI
(Key Performance Indicator) diperlukan agar meraka pun sadar untuk mengambil
cara ynag paling efektif untuk mencapai hasil yang diharapkan. Mereka akan
lebih produktif dan loyal ketika diberikan keleluasaan untuk berkreasi ditugas
pekerjaannya.
5.
MISPERSEPSI GEN Y MAUNYA INSTAN
Dibutuhkan paling tidak 29
tahun bagi Gen Y untuk emncapai posisi eksekutif diperusahaan. Namun bagi
sebagian Gen Y, 10 tahun saja rasanya mungkin sudah terlalu lama. Sekilas
terrkesan mereka maunya instan. Tapi sebentulnya dibalik itu tersimpan
keinginan untuk menunjukkan kemampuan.
Mereka tidak suka berlama-lama
menunggu feedback. Pertemuan per 6 bulan yang mereview kinerja bagi mereka
tidak cukup. Lebih baik feedback diberikan on the spot sehingga mereka biasa
langsung memperbaiki, bila ada yang salah. Layaknya skor “lile” di facebook,
millennials ingin mengetahui dengan segera apakah kinerja mereka bagus atau
tidak.
MEMAHAMI KEKUATAN GEN Y
Studi yamg dilakukan oleh Ernest &
young terhadap 1200 orang profesioanal dari berbagai industeri di Amerika
menyimpulkan bahwa Gen Y jauh meninggalkan Gen X untuk katagori pengusaan
teknologi. Merka pun mendapatkan skor tinggi untuk pemanfaatna media social
dalam menaikkan citra perusahaan.
Studi itu pun menyebutkan kelebihan Gen Y
ada pada kemampuan kolaborasi adaptasi dan jiwa entrepreneurial. Yang tidak
kalah menarik, Gen Y diposisi manajer yrtnyata mencetak skor tinggi
dibandingkan Gen X dalam hal kemampuan membangun tim yang kompeten tanpa
membedakan suku,ras, agama, jemis kelamin dan penampilan fisik.
Meskipun studi ini dilakukan di Amerika
namun data tersebut nampaknya berlaku universal dihampir semua negara didunia.
Kekuatan Gen Y lainnya yang sering kita
amati adalah kemampuan mereka bekerja multi-taskingIi
mengerjakan beberapa hal sekaligus dalam rentang waktu. Barangkali ini
kaitannya dengan stimulus video game yang dimainakan sejak kecil oleh Gen Y.
Meskipun kadang bekerja multi tasking ini bisa menyebabkan kecerobohan,
kesadaran untuk membuat prioritas dan manajemen waktu akan sangat efektif untuk
memberdayakan kekuatan ini.
Diperluakan manajemen dan leadership yang
tepat untuk mengelola kekuatan Gen Y agar bisa betul-betul didayagunakan.
Hampir semua perusahaan sekarang memperkerjakan karyawan dari generasi
produktif ini. Bahkan di industry telekomunikasi, perbankan, dan asuransi
kehadiran generasi Y hamper melebihi 60% dari total populasi. Beberapa tips
yang bisa membantu memaksimalkan kelompok potensial ini :
1. Jelaskan area kerjanya, tapi hindari micromanaging. Definisikan apa yang mereka harus kerjakan tapi jangan ikut campur
terlalu detail. Pastikan mereka tahu hasil yang diharapkan dan tenggang waktu
pengerjaannya. Mereka bisa bekerja sendiri dengan sedikit pengawasan dan
dengarkan ide-idenya seiring proses kerja berjalan.
2. Dampingi mereka. Pastikan anda memberikan feedback dan bimbingan berkelanjutan seiring
mereka naik ke jenjang karier yang lebih tinggi. Mereka akan merasa lebih
percaya diri dengan adanya orang lain yang berperan sebagai mentor atau coach,
meskipun pendampingan ini dilakukan secara informal.
3. Lakukan pendekatan tim. Millenials menyukai kerja dalam formal kelompok. Kumpulkan mereka
dalam menyelesaikan satu pekerjaan dan berikan keluluasaan untuk
mengekspresikan ide-idenya.
4. Jangan batasi mereka. Manfaatkan kekuatan multi-tasking mereka. Mereka menyukai keragaman
pekerjaan, termasuk hal-hal baru yang menantang>lengkapi mereka dan saring.
Ide yang tidak bisa direalisasikan segera bukan berarti ide jelek. Bisa jadi
itu Karena soal waktu.
5. Keep it fun. Penting untuk selalu menjaga suasana menyenangkan ditempat kerja
dengan menyediakan sarana olahraga, music, special interst group, dan kegiatan
komunitas. Hubungan anatr individu akan terjalin bukan hanya dalam konteks
kerja, tapi juga suasana kekeluargaan. Millenials menyukai keseimbangan antara
kehidupan kantor dan luar kantor.
PRINSIP COACHING BAGI GENERASI Y
1.
MEMBANGUN KEDEWASAAN MEREKA
Generasi Millenials
memiliki dorongan (drive) yang tinggi. Ambisi mereka besar untuk mencapai
posisi puncak dalam waktu pendek. Mereka punya pengetahuan dan sekumpulan
keterampilan. Satu-satunya yang mereka tidak punya adalah pengalaman. Coaching selayaknya diberikan kepada mereka sebagai
sarana pendewasaan agar merka belajar secara berkelanjutan dan mengumpulkan
pengalaman agar menjadi lebih bijak dalam mengambil tindakan. Sebagai leader
dan coach, anda membantu mereka untuk :
·
Menyepakati area pekerjaan dan
kriteria pencapaian
·
Berdiskusi memecahkan maslah
Bersama
·
Memberikan masukan saat
dibutuhkan
2.
MENYEDIAKAN TANTANGAN BARU
Sebagai leader dan coach,
anda membantu Gen Y untuk :
·
Berpikir kreatif dalam
menghadapi tantangan baru yang diberikan
·
Mereflesikan hasil pembelajaran
dama bentuk pengalaman dan kearifan
·
Menyadari hal-hal yang ia
perlukan tingkatkan dan pelajari lagi.
3.
MENDAMPINGIN TANPA MICRO
MANAGING
Tidak bijaksana juga untuk
mendelegasikan pekerjaan sepenuhnya pada Millenials dan membiarkan mereka bekerja
sendiri. Apalagi bila mereka masih belum serratus persen kompeten dibidangnya.
Sebaliknya pengawasan yang terlalu ketat akan menyebabkan mereka merasa tidak
dipercaya.
DISTRIBUSI PENGETAHUAN
ANTAR GENERASI
Diprediksi dalam 5 sampai
10 tahun mendatang akan terjadi transfer pengetahuan besar-besaran seiring
dengan generasi X yang telah memasukin usia pensiun. Di Indonesia sendiri rata-rata usia penduduk
berdasarkan data tahun 2011 ada kisaran 28.2 tahun. Mereka adalah Generasi Y
sebagai kekuatan kerja produktif yang dalam beberapa tahun mendatang akan
banyak mengisi posisi-posisi kunci di organisasi.
Perusahaan yang tidak
memiliki strategi untuk regenerasi kepemimpinan akan kaget ketika pengetahuan
dan pengalaman hilang begitu para leader senior pensiun. Kuncinya terletak pada
distribusi pengetahuan antar generasi di organisasi sehingga tidak terjadi
ketimpangan ketika karyawan senior berakhir masa tugasnya.
Kesimpulannya perusahaan
yang tidak memiliki strategi pengelolaan sumber daya manusia antar generasi
beresiko kehilangan produktivitas dan terpaksa
menghabiskan biaya ekstra untuk mengejar ketinggalan dan competitor.
Lebih buruk lagi, perusahaan ini kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan
potensi luar biasa dari generasi muda yang kaya kreativitas dan berambisi
tinggi menjadi pemimpin.
BAB
5
INTERCULTURAL
LEADERSHIP : HOW COACHING CAN HELP
Dunia Leadership modern saat ini menaruh
perhatian besar pada aspek intercultural,
terminology yang mewakili hubungan manusai antar budaya. Taruhlan perusahaan
multinasional yang beroperasi dipedalaman Indonesia bagian timur. Mereka tidak
bisa serta merta menggunakan gaya kepemimpinan Barat untuk mengelola sumder
saya manusia local. Bahkan seringkali teori kepemimpinana yang dipelajari di
buku harus disesuaikan dengan situasi setempat.
Dalam hal ini coaching dapat membantu para
pemimpin untuk beradaptasi dengan kultur orang-orang yang dipimpinnya. Pada dasarnya
setiap manusia ingin dihargai dan diakui keberadaanya. Pendekatan coaching yang
mengedepankan kemitraan membuat pemimpin belajar untuk dapat mendengarkan,
berempati dan menyamakan frekuensi mental dengan orang yang diajak berbicara.
5 TIPS COACHING UNTUK INTERCULTURAL
1.
Pelajari budaya local dan
hilangkan asumsi
Sangat dianjurkan untuk
mengamati bagaimana orang-orang bergaul secara social. Kebiasaan-kebiasaan
kecil seperti perayaan ulang tahun, pernikahan dan kematian akan sangat
membantu memahami bagaimana orang-orang berinteraksi satu sama lain ditingkat
esensi. Kita menemukan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, privasi dan lainnya
yang menjadi ciri khas budaya setempat.
2.
Mendengarkan dan memperhatikan
lawan bicara
Orang dari budaya apapun
pada dasarnya ingin diakui dan dihargai . Mendengarkan adalah cara yang paling
efektif untuk membangun hubungan dengan mereka. Mendengar membutuhkan focus
untuk menyimak ucapan si lawan bicara sekaligus menyikirkan suara-sura dikepala
yang ingin langsung lompat pada kesimpulan.
Seorang ekspat
berkebangsaan india pernah mengalami kesulitan dalam hal ini. Ia dibesarkan
dalam lingkungan budaya yang kompetitif. Salah satu cara untuk eksis adalah
dengan berpikir cepat dan banyak bicara. Di lingkungan tersebut memang cocok,
namun ketika ia memipin tim baru dari budaya yang berbeda ia harus belajar
menahan diri untuk tidak mendominasi pembicaraan.
3.
Setarakan Bahasa tubuh dan
intonasi
Komunikasi penting dalam
membangun hubungan dengan orang lain. Komunikasi tidak hanya tersusun dari
kata-kata tapi juga intonasi dan Bahasa tubuh.
Bagi orang bule, berbicara
sambal berkacak pinggang adalah hal biasa. Namun Bahasa tubuh ini dimaknai
berbeda oleh orang kita. Si bule akan mendapat kesan sok berkuasa dan
kemungkinan akan ada resistensi mental dari karyawan lokal khususnya yang
usianya lebih tua. Dalam konteks hubungan kerja, umumnya karyawan lakal pun
pelu beradaptasi dengan gaya komunikasi ekspatriat.
4.
Pelajari tatanan social
setempat
Tatanan social sangat kuat
khususnya disebagian besar kawasan Asia yang mayoritas dulunya kerajaan. Secara
adat masyarakat terbagi menjadi beberapa hierarki golongan, salah satucontohnya
adalah system kasta. Meskipun di era modern saat ini pembagian hierarki ini
sudah tidak sekuat dulu namun di beberapa daerah tertentu masih tetap
berpengaruh.
Seorang manajer perusahaan
tambang nasional yang beroperasi dipedalaman Sulawesi pernah mengalami
kesungkanan memerintah operatornya. “ saya tahu ia anak buah saya, tapi juga ia
seorang tokoh adat.” Ujarnya. Si manajer yang asli Jawa ini paham betul tatanan
social masyarakat setempat. Ia pun meluangkan waktu untuk mengunjungi keluarga
tokoh adat ini sebagai bentuk jalinan hubungan social. Bagusnya ia dapat
menarik Batasan jelas antara kapasitasnya sebagai atasa di kantor dan posisinya
sebagai anggota masyarakat yang menghormati sang tokoh yang merupakan anak
buahnya dikantor.
5.
Bergaul, bergaul dan bergaul
Rasanya tidak enak menjadi
terasing di tengah orang banyak. Ini pernah diutarakan oleh seorang CEO asal
Swedia yang setiap makan siang ia selalu sendirian, padahal semua anggota
timnya perrgi Bersama ke kantin perusahaan. Di salah satu kesempatan group
coaching saya pun mengamati tidak ada anak buahnya yang mengajak ngobrol.
Kalaupun mereka berbicara itu hanya sebatas hubungan kerja semata.
Tentunya tidak mudah untuk
bergaul lintas budaya, Salah satu tips untuk menjalin pergaulan antar budaya
adalah mencari kesamaan yang sifatnya universal seperti olahraga, music, hobi
atau apapun yang bisa menjadi jembatan pembicaraan. Cara lainnya adalah belajar
dengan banyak bertanya. Ajukan pertanyaan terbuka yang didasari rasa ingin tahu
yang jujur. Orang lain akan respek terhadap kita yang secara tulus ingin
menjalin hubungan dengan mereka.
BAB 6
DISTRIBUTED LEADERSHIP : TIDAK ADA LAGI SUPER LEADER
·
Hilangnya super leader
Konsep kepemimpinana dengan gaya seperti ini dikenal
dengan nama Single leadership.
Sebutan pemimpin biasanya melekat pada posisi seseorang distruktur organisasi.
Disini seorang manajer perusahaan otomatis menjadi pemimpin bagi timnya. Ia
harus tahu semua seluk beluk operasional tim tersebut Karena memang ia
berkewajiban mengambil keputusan-keputusan rutin.
Meskipun single leadership terbukti ampuh, namun konsep
ini menyisakan dua hal problematic. Pertama, tanggung jawab seorang leader
menjadi terlalu terpusat pada satu orang seolah-olah tidak ada lagi orang lain
yang bisa berkontribusi. Yang kedua, pemimpin dalam konsep ini bisa terjebak
pada rutinitas dan bahkan cenderung mengawasi hal-hal yang bersifat detail,
micro managing. Akibatnya tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal strategis
yang berguna untuk pengembangan masa depan tim dan organisasi.
Konsep kepemimpinan baru yang dikenal dengan istilah Distributed
Leadership menawarkan solusi terhadap dua pronelm diatas. Wacana
distributes leadership ini umumnya disambut positif oelh banyak organisasi,
baik korporasi maupun dengan dunia bisnis.
·
Kepercayaan dan kecakapan
menjadi kunci
Banyak organisasi berusaha menerapkan praktik distributed leadership
namun hasilnya tidak maksimak. Penyebab utamanya Karena kebanyakan masih
beranggapan bahwa distributed leadership semata-mata terkait dengan pembagian
pekerjaan dan tanggung jawab pada beberapa orang berdasarkan jabatan resmi
mereka di organisasi. Contoh kasus seorang direktur yang mendelegasikan
pekerjaan pada beberapa manajer, sementara semua keputusan tetap berada
ditangan sang direktur. Ini bukanlah distributed leadership. Pengajar leadership,
Prof Alma Harris, menyebut praktik ini sebagai misguided delegation.
Coaching
dalam konteks Distributed Leadership
Prinsip coaching dalam penerapan
distributed leadership terlihat di beberapa aspek penting seperti :
·
Kemitraan. Bekerjs dalam team environment yang memandang kepemimpinan
tidak eksekutif pada satu orang namun siapa pun bisa tampil Karena anggota tim
adalah mitra bagi yang lain.
·
Co-creating relationship. Hubungan yang saling bergantung
(interdependent) memicu orang untuk menghormati orang lain dan saling
mengingatkan accountability masing-masing ketika ada tanda-tanda komitmen kerja
berkurang.
·
Experimentation. Setiap orang bebas
menyampaikan ide yang jika disepakati Bersama akan diuji cobakan dengan
semangat eksperimen mendapatkan hasil pembelajaran.
·
Discovery. Aktivitas dalam inisiatif
distributed leadership bukanlah jenis pekerjaan rutin sehingga terbuka
kewsempatan untuk menentukan hal-hal baru yang menambah pengetahuan dan
pengalaman, termasuk mengenali kekuatan diri sendiri melalui bekerja dengan
orang lain.
Dalam praktik kerjanya, akan sangat ideal
bila ada leader senior diluar yang berperan sebagai coach. Peran yang sama
dapat pula dilakukan seorang coach eksternal yang memang khusus dilibatkan
untuk membantu pemngembangan leadership di tim tersebut. Coach tidak berperan
sebagai konsultam yang membantu mengerjakan proyek, namun sebagai mitra untuk
memancing pemikiran kreatif dan mengatasi hambatan mental.
Dalam praktik distributed leadership,
coaching tidak hanya tercermin dalam tat acara bekerja (way of working)
melainkan juga kedalam percakapan kreatif dalam sesi diskusi untuk menggali ide
dan pemikiran.
BAB
7
VERTICAL
DEVELOPMENT : TRANSFORMASI SANG PEMIMPIN
Vertical development pada intinya merangkum
semua yang telat kita bahs di bab-bab sebelumnya, terutama yang berkaitan
dengan coaching dan Distributed Leadership. Namun sebelum kita beranjak lebih
jau ada baiknya kita lihat alasan-alasan yang menyebabkan pemimpin sulit
berkembang. Kita tahu yang namanya pengembangan itu membutuhkan komitmen dari
dalam diri dan itu tidak mudah.
4
Alasan pemimpin sukar berkembang
Dari sumber-sumber penelitian dan juga
wawancara yang kami lakukan sangat jelas terlihat 4 hal yang menyebabkan
pemimpin sulit berkembang
1. Enggan mendelegasikan, kebanyakan pemimpin terlalu
sibuk mengurusi persoalan detail dan operasional. Mereka enggan
mendelegasikannya pada orang lain Karena berpikir jika bukan mereka sendiri
yang mengerjakan maka hasilnya akan jelek. Ini yang membuat mereka tidak punya
waktu untuk mengembangkan diri sendiri.
2. Fokus terlalu pendek, Akibat banyaknya isu operasional yang harus dihadapi, focus
pemimpin terkuras untuk menyelesaikan apa yang ada didepan mata saja satu demi satu. Ini mengakibatkan mereka
kehilangan visi untuk melihat jangka panjang dan luput mengamati hubungan anat
fakta yang menyebabkan suatu isu muncul. Analoginya seperti fire fighting sibuk memadamkan api.
3. Mentalis silo, Ini mewakili pola piker pemimpin
di organisasi yang menganggap dirinya paling benar sehingga enggan menerima
informasi dari sumber lain di departemen yang berbeda. Konsep sharing tidak
berlaku disini. Masing-masing pemimpin hanya mengurusi apa yang penting bagi
tim dan departemenya sehingga wawasan merekapun tidak berkembang untuk melihat
konektivitas antar bagian.
4. Pengembangan diri identic
dengan training, Saat manajer ditanya, “Apa yang
bisa membantu anda berkembang?” Respon yang muncul biasanya mereka menyodorkan
nama-nama training yang ingin diikuti. Meskipun hal ini normal tapi yang lazim
terjadi proses pengembangan diri berhenti setelah itu. Padahal pengembangan
diri erat kaitannya dengan praktik berkesinambungan, mereview hasilnya, dan
menerima masukan yang semua itu hanya bisa berjalan dalam jangka panjang.
Barangkali tidak banyak yang menyadari
besarnya pengaruh empath al di atas terhadap pertumbuhan diri kita. Efek paling
kentara adalah kita merasa semuanya sudah berjalan dengan baik dan tidak perlu
berubah. Pola ini kita bawa saat memimpin tim dan organisasi sehingga tidak
heran orang seperti klien saya mengatakan masalah sesungguhnya ada pada
pemimpin yang masih menggunakan pola piker 20 tahun yang lalu meskipun zaman
telah berubah.
Horizontal
VS vertical Development
Era millennium menciptakan warna baru di
lanxkap leadership dengan semakin kaburnya Batasan antar budaya, system dan
teknologi yang makin kompleks, dan informasi yang ambigu. Ini mendorong
pemimpin terus belajar dan berkembang tapi mereka perlu melakukannya dan minset
yang berbeda.
Oleh karenanya program pengembangan
kepemimpinan tidak cukup lagi focus pada pembelajaran dan pembekalan
pengetahuan dan kecakapan saj. Kita perlu mempertimbangkan pula perubahan cara
berpikir yang holistic dan terintegrasi.
Horizontal
Development
Pengembangan kepemimpinan yang menekankan
[ada pembekalan pengetahuan dari keahlian. Ini semua menekankan pada pembekalan
pengetahuan dan keahlian. Ini semua berkaitan dengan apa yang perlu anda
ketahui untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
Vertical
Development
Apa yang dicapai dari pengembangan secara
vertical ini adalah kemapuan berpikir yang lebih kompleks, sistematik,
strategis, dan saling terhubung. Ditahap vertical development anda akan dipicu
untuk berpikir lebih komprehensif tentang bagaimana menyelesaikan suatu
pekerjaan.
Gambar dibawah ini merefleksikan
pemgembangan kepemimpinan yang bersifat horizontal dan vertical. Pengembangan
yang bersifat horizontal tetap diperlukan Karena tidak ada pemimpin yang
efektif tanpa ia mengetahui seluk beluk pekerjaan yang ia jalankan. Yang ingin
kita pahami disini adalah proses pengembangan kepemimpinan tidak berhenti
secara horizontal di level pengetahuan dan keahlian saja. Pengembangan terus
berlanjut ke level cara berpikir yang lebih maju dengan mempertimbangkan
kompleksitas dan perubahan dinamis yang terjadi disekeliling organisasi. Inilah
yang menjadi prinsip vertical development.
Gambar halaman 154, buat pah
KOMPENTENSI DASAR VERTICAL DEVELOPMET
Didunia leadership dan manajemen saat ini
berkembang istilah popular yang dinamakan VUCA, yang merupakan singkatan dari :
Volatility (berubah ubah,flutuatif)
Uncertainty (Tidak pasti)
Complexity (kompleks)
Ambiguity (bermakna ganda)
Terminologi VUCA sendiri pertama kali
didengarkan oleh angkatan bersenjata Amerika Aerikat untuk mengembangkan dunia
yang semakin sulit diprediksi setelah berakhirnya era perang dingin. Wacana
VUCA ini lantas diadopsi oleh praktisi bisnis dan organisasi sebagai strategi untuk
menghadapi situasi yang tidak pasti dan serba kompleks.
Pelaku bisnis harus berpikir maju
mengantisipasi perubahan yang sangat cepat. 2 tahun yang lalu siapa yang
menyangka dominasi perusahaan transportasi gaya konvensional terancam oleh
kehadiran pemain baru yang menggunakan aplikasi teknologi untuk mempermudah
pemesanan. Go-jek dan Uber tiba-tiba menjadi sorotan dengan model bisnis baru
yang mempertemukan pelanggan dan penyedia jasa lewat aplikasi berbasis
teknologi.
Pertengahan tahun 2016 ini kita dikejutkan
oleh berita keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Keputusan yang ditetapkan melalui
referendum Brexit (Britain Exit) ini kontan membuat banyak kalangan
bertanya-tanya,”Apa dampaknya dalam jangka panjang secara politik, bisnis,
ekonomi dan social?” Pasar saham sontak bergejolak. Ribuan imigran yang tinggal
di Inggris serentak merasa tidakpasti akan nasib mereka. Reaksipun muncul dalam
bentuk petisi oleh orang-orang yang menginginkan referemdum diulang.
Negara-negara dibelaha dunia lain mulai berancang-ancang untuk mengantisipasi
perubahan yang akan terjadi. Di zaman yang serba terkoneksi ini memang satu
kejadian bisa menimbulkan efek berantai.
Di era milinium dituntut untuk berpikir
kreatif didalam menghadapi situasi yang serba “VUCA”. Vertical development
mendorong pemimpin untuk mentrasformasikan cara berpikir mereka menjadi lebih
adaptif dan terintegrasi. Tabel berikut ini memberikan gambaran beberapa
kompetensi penting yang perlu dimilki pemimpin dalam kaitanya dengan
pengembangan dirinya secara vertical :
|
Kompentensi
|
Penjelasan singkat
|
|
Strategic thinking
|
-
Visi jangka panjang
-
Melihat pola dan tren
-
Merangkai fakta-fakta
terpisah menjadi satu kesatuanyang memberikan makna
-
Menerima ketidak pastian
sebagai hal biasa
|
|
Leading Change
|
-
Perubahan adalah proses
kolaboratif
-
Bersikap adaptif menghadapi
perubahan
-
Sukses merupakan perwujudan
dari keinginan Bersama
|
|
Conbict
|
-
Mendengarkan untuk memahami
pandangan yang berbeda
-
Konbik sebagai sarana pembelajaran
-
Tidak ada yang menang atau
kalah
|
|
Leading across Boundaries
|
-
Melihat dunia dari persepsi
orang lain untuk mendapatkan pemahaman lebih
-
Berbagi informasi lintas
bagian
-
Bekerja sebagai mitra dengan
pihak lain
|
BAB
8
MEMBANGUN
BUDAYA COACHING DI ORGANISASI
Bagi anda yang bekerja diperusahaan
tentunya sudah akrab dengan istilah Annual
Performance Review. Kegiatan evaluasi tahunan ini lazimnya dilakukan untuk
menilai kinerja akhir karyawan dan enyepakati sasaran yang akan dicapai ditahun
berikutnya. Sayangnya masih banyak pihak yang belum merasakan dampak dari
aktivitas ini.
Penelitian
oelh Neuroleadership Institute
bahkan menyebutkan setenah dari jumlah total karyawan terkejut dengan rating
yang mereka peroleh 90% diantaranya merasa
unhappy. Akibat 23% dari mereka ini mengalami demotivasi dan kehilangan
kreativitas dalam bekerja.
Barangkali Karena alasan inilah beberapa
perusahaan terkemuka mulai meninggalkan system penilaian dengan gaya terrsebut.
Sebagai gantinya mereka mewajibkan para manajer untuk memberikan penilaian
rutin kepada timnya setiap kali suatu aktivitas penugasan diselesaikan.
Barangkali organisasi anda masih
menerapakan annual performance review.
Mungkin juga terlalu drastic untuk menghilangkan Karena taoh semua proses
berjalan dengan baik. Meski begitu, bagaimana jika pengembangan karyawan ini
bisa dijadikan sebagai buadaya? Setiap orang yang bekerja di organisasi
memiliki kesempatan untuk selalu mengembangkan diri. Organisasi pun mendapatkan
manfaat dari hasil yang mereka capai. Inilah inti budaya coaching
MEMPERSIAPKAN PEMBENTUKAN BUDAYA COACHING
Istilah coaching pada waktu itu masih kalah
popular dibandingkan dengan training dan conseling. Coaching yang diadopsi
menjadi budaya organissi mempengaruhi bagaimana setiap orang berprilaku ketika
mereka berinteraksi secara profesioanal. Contoh sederhananya seorang manajer
yang memipin pertemuan mingguan tidak Cuma sekedar bagi-bagi tugas dan menagih
strategi pencapaina. Mendengarkan, menggali dan brainstorming akan muncul
secara natural dalam proses ini.
Dalam praktik Distributed Leadership,
misalnya coaching sebagai budaya akan membantu manajer merasa ringan ketika
diberi tugas oleh anak buahnya. Tidak ada gengsi otoritas diditu Karena ia
menyadari melalui proses inilah si anak buah dilatih untuk mempimpin sebauah
pekerjaan. Di sisi lain si manajer dapat berperan sebagai coach yang mempingi
si anak buah tanpa terkesan mengurusi hal-hal kecil.
Dilihat dari sudut pandang Vertical
Delevopment , coaching yang sudah merekat menjadi budaya akan membuat pemimpin
berpikir strategis dengan menggali fakta-fakta sebelum ia mengambil keputusan.
Kondisi eksternal yang kompleks dan penuh ambiguitas justru disambut positif
sebagai sarana pengembangan diri dalam menghadapi perubahan.
STUDI TENTANG BUDAYA COACHING DAN DAMPAKNYA
DIORGANISASI
Studi global yang dilakukan oleh Amerika
Management Association pada tahun 2008, menunjukkan 43% dari perusahaam
dikawasan Amerika Utaradan sebagaian belahan dunia lainnya menggunakan armada
coach internal untuk bekerja dengan karyawan sari semua level dan 60% dari
penerima coaching ini adalah karyawan berpotensi (high potential employees)
TINGGINYA EMPLOYEE ENGAGEMENT
Definisi employee engagement
secara sederhana berkaitan dengan motivasi karyawan untuk bekerja maksimal bagi
perusahaan. Melalui studi ini didapat 65% reponden yang bekerja di perusahaan
yang menerapkan budaya coaching menyatakan mereka highly engaged. Hasil ini lebih baik dibandingkan karyawan
perusahaan dengan budaya lain yang skor engagement nya ada diangka 52%.
TINGGINYA OMSET PERUSAHAAN
Dilihat dari dampak finansial, ternyata 60%
responden dari perusahaan yang menerapkan budaya coaching menyatakan omzet
perusahaan mereka di tahun 2013 berada diatas rata-rata perusahaan lain di
industry yang sama. Hanya 29% dari mereka yang melaporkan omzet perusahaannya
setara. Sementara persentasi kecil sejumlah 10% menunjukkan dibawah rata-rata.
Realita ini jelas memperlihatkan coaching
lebih dari sekedar membekali karyawan dengan kompetaensi dan keterampilan.
Coaching pun dapat menciptkan dampak jangka panjang pada organisasi, termasuk
di area finansial.
BAGAIMANA TREN DI INDONESIA?
Perkembangan coaching di Indonesia terlihat
merata hamper di semua industry. Tren yang terjadi di global pun Nampak sama
disini, coaching seringkali berdampingan dengan mentoring ketika digunakan
sebagai media pengembangan karyawan.
Dalam membangun budaya coaching, organisasi
di Indonesia pun menghadapi tantangan yang sama seperti halnya di global.
Umumnya organisasi dihadapkan pada 3 faktor utama yang menghambat perwujudan
budaya coaching yaitu :
1.
Kurangnya waktu
2.
Anggaran yang tidak mencukupi
3.
Terbatasnya kemampuan mengukur
ROI (Return On Investasi)
Dukungan dari sterring committee yang terdiri dari pimpinan eksekutif organisa
dan juga dilibatkannya coaching champion akan membantu banyak pihak dalam
menghadapi ketiga factor tersebut.
Wajah coaching akan mengalami perubahan>
Jika hari ini kita banyak mengenal coaching dilevel pengembangan organisasi,
tak lama lagi kita akan menyambut sebagai pendekatan trasformasional
yangmenjembatani kita menuju manusia yang lebih utuh dengan kemampuan
leadership yang jauh lebih dari hanya sekedar pemimpin namun pemimpin yang
memberi ilmu untuk generasi berikutnya.
Disini saya akan mengutip ucapan seorang
coach yang pernah menjadi atlet bulutangkis, “Rasanya kebahagian menjadi juara
dimasa lalu masih jauh dibanding kebahagiaan melihat anak binaan menjadi
juara.” Seperti itulah dalam dunia bisnis, seorang direktur menciptakan
manajer-menajer handal dan manajer-manajer itu menciptkan anak-anak buah yang
mumpunin dibidangnya, percaya diri, berpengetahuan, memiliki mental pemimpin.
Maka akan tercipta generasi-generasi pemimpin dimasa akan datang, perusahaan
akan berkembang pesat dibawah tangan-tangan generasi handal yang mereka miliki
didalamnya,generasi pemimpin adalah aset perusahaan.
Nice Blog.!
BalasHapusHappy Brain is the best Neuroleadership Coaching platform for the leaders of today's world. Happy Brain Leadership Coach in India transform leaders to transform effectiveness into high-performance professionals.
Neuroleadership Coaching
Leadership Coach in India
Nice Blog..!Best Leadership Coach in India at Happy Brain for Mentoring effectiveness to High Performing Professionals.
BalasHapusNeuroleadership Coaching
Leadership Coach in India